Pendidikan

Peneliti Asal Indonesia Perlu Gandeng Industri

Saat ini banyak penelitian yang penerapannya belum bisa sampai ke masyarakat.

Peneliti Asal Indonesia Perlu Gandeng Industri
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
Workshop Uji Kasus Perhitungan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) yang diadakan di LPPM UNY pada Kamis (12/9/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Sampai dengan saat ini, produk prototipe yang dihasilkan peneliti di Indonesia sudah cukup banyak, dan dari hasil kinerja komponen, secara total sudah menunjukkan hasil yang baik.

Namun, ketika diranking dalam tingkat kesiapan teknologi, dari angka 1-9, kebanyakan produk-produk yang dihasilkan peneliti masih di angka 6-7.

Andi Suryandi, Kasi Evaluasi Sistem Riset dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemenristekdikti dalam Workshop Uji Kasus Perhitungan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) yang diadakan di LPPM UNY pada Kamis (12/9/2019) mengungkapkan saat ini banyak penelitian yang penerapannya belum bisa sampai ke masyarakat.

Palette X Wardah: Tutorial Make Up ke Kondangan yang Antiribet

Hal tersebut disebabkan hasil riset yang belum bisa didiseminasi secara langsung maupun informasi hasil riset tersebut belum terpublikasikan dengan baik.

"Capaian levelnya ada 1-9. Kalau di kami baru 1-6 atau 1-7, dimana dia masih dalam prototipe. Tentunya seharusnya yang harus kita giring adalah riset dasar sampai bisa diterapkan di industri atau masyarakat," katanya

Menurutnya, yang perlu dilakukan saat ini yakni Peneliti harus bisa menggandeng industri, ataupun ketika membuat penelitian, peneliti sebaiknya menggandeng industri untuk bisa terlibat di dalamnya.

Yang mana ketika pruduk tersebut sudah jadi, bisa sesuai dengan yang diperlukan oleh industri.

Mahasiswa UNY Ciptakan CANTIK Bath Bomb, Pencegah Bakteri Sekunder pada Penderita Cacar Air

"Ke depan kalau kita melakukan riset, harus bisa menggandeng industri. Jangan sampai hasil riset sudah ada tapi industri tidak bisa menerima. Kalau dari awal riset itu diajak industri terlibat, maka akan lebih cepat sampai kesana," ungkapnya.

Atau cara lain yang digunakan agar produk tersebut bisa sampai ke masyarakat, peneliti bisa menggunakan alternatif lain dengan cara membangun startup dan memperbanyak publikasi.

"Kegiatan workshop, promosi harus juga digalakkan, sehingga industri tahu bahwa di kampus ini hasil risetnya ada. Sekarang bisa juga kayak startup digalakkan di kampus, bisa mempromosikan secara industri. Makanya saat ini kita kumpulkan para Peneliti baik dari kampus atau lembaga agar ke depan bisa siap," katanya.

Husni Yasin Rosadi, Pemateri dalam kegiatan ini menerangkan setidaknya ada 9 level TKT, mulai dari prinsip dasar, konsep dan aplikasinya, validasi dalam lingkungan yang relevan, model atau prototipe yang sudah diuji dalam lingkungan yang relevan, prototipe telah diuji dalam lingkungan sebenarnya, hingga yang paling atas adalah teknologi benar-benar teruji.

Tim Garuda UNY Terus Lakukan Penyempurnaan Mobil Listrik E-Car

"Pada level 6, penelitian menunjukan kinerja komponen secara total sudah baik. Jadi teknis dari komponen sudah menunjukkan hasil yang sempurna. Sedangkan 7-9 ketika secara teknis hasil labolatorium sudah menunjukkan hasil baik dan dibawa ke lingkungan sebenarnya," ungkapnya.

Menurutnya, pada level 7-9 ini sudah ada perhitungan ekonomi dengan industri, yang mana produk dihitung sudah bisa diluncurkan ke pasar.

Menurutnya, adanya level TKT ini semata-mata untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh suatu produk.

Ketika level dari produk tersebut semakin tinggi, maka risiko yang ada juga semakin rendah. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved