Yogyakarta

Permintaan Underpass Penyeberangan Fly Over Janti, Dishub DIY Siap Bersama Warga Surati Kementerian

Ketika warga ingin segera dibuatkan underpass, Dishub pun siap bersama warga untuk berkirim surat ke Kementerian.

Permintaan Underpass Penyeberangan Fly Over Janti, Dishub DIY Siap Bersama Warga Surati Kementerian
TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri
MELINTASI REL. Warga melintasi rel kereta api di bawah jembatan layang Janti, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (9/9/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM - Merespon keinginan warga di sekitar fly over Janti untuk bisa dibuat underpass agar bisa digunakan untuk menyeberang, setelah hampir dua tahun diadakan penutupan jalan di bawah fly over Janti, Kepala Dinas Perhubungan DIY, Sigit Sapta Raharjo menerangkan jika pihaknya memang sudah melakukan kajian mengenai hal tersebut.

Sigit menyampaikan, saat melakukan kajian beberapa saat lalu, pihaknya juga melibatkan warga sekitar.

Namun menurutnya, untuk pembuatan underpass sendiri bukan lah kewenangan dari Dinas Perhubungan DIY, mengingat Janti sendiri merupakan jalan nasional.

"Saya sudah buat studi, studinya itu salah satunya dibuat underpass. Tapi kalau pembangunannya bukan kewenangan Dishub DIY, itu kewenangan dari PU yang mana itu merupakan jalan nasional," ungkapnya pada Tribunjogja.com melalui sambungan telepon.

Sigit menerangkan, ketika warga ingin segera dibuatkan underpass, Dishub pun siap bersama warga untuk berkirim surat ke Kementerian.

Pihaknya pun merespon akan segera melakukan pengajuan ke Bappeda.

"Saya sudah sampaikan, kalau ada warga yang ingin, ayo bareng kirim surat ke Kementerian untuk bisa menyediakan underpass. Mungkin bisa diliat dulu studi kita, nanti kalau kita harus kirim surat bareng-bareng dengan warga juga tidak apa. Itu jalan masih nasional, belum ada penyerahan. Kalau yang buat kami itu tidak benar," katanya.

Dia menerangkan jika penutupan jalan di bawah fly over Janti sendiri sifatnya bukan sementara.

Untuk alasan penutupan sendiri lantaran merupakan perlintasan sebidang.

Ketika di perlintasan sebidang sudah ada jalur pengganti, maka jalan (di bawah fly over Janti) harus ditutup sesuai dengan prosedur.

Sama halnya dengan yang ada di Sentolo.

Berbeda dengan jalan yang ada di bawah fly over Lempuyangan, hal tersebut dikarenakan fly over yang ada di Lempuyangan jaraknya sangat dekat dengan traffic light.

Ketika jalan yang ada di bawahnya ditutup, maka akan terjadi kemacetan di atas fly over, yang ditakutkan fly over terlalu banyak menanggung beban.

"Kenapa kalau Lempuyangan tidak ditutup karena Lempuyangan ada traffic light. Sehingga nanti akan banyak berhenti di atas, maka bebannya tidak kuat untuk berhenti. Makanya di Lempuyangan perlu dibuat studi alternatif dengan membuka Lempuyangan yang barat, yang jauh dari traffic light. Kalau Janti traffic light-nya jaraknya jauh dengan fly over," ungkapnya. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved