Asiknya Berfoto di Weapon Box 759 Senjata di Museum TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta

Asiknya Berfoto di Weapon Box 759 Senjata di Museum TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta

Asiknya Berfoto di Weapon Box 759 Senjata di Museum TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta
Tribun Jogja/Yudha Kristiawan
Seorang pengunjung berfoto dengan latar Weapon Box yang berisikan koleksi senjata koleksi Museum Museum TNI AD Dharma Wiratama 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kawasan Kota Baru Yogyakarta dulunya menjadi salah satu pusat perkantoran zaman pendudukan Belanda dan ketika Ibu Kota Indonesia berada di Yogyakarta, sebagian kantor penting yang mendukung jalannya roda pemerintahan juga berada di kawasan ini.

Kini bangunan bangunan bersejarah tersebut masih berdiri kokoh dan terawat dengan berbagai fungsi menyesuaikan kebutuhan saat ini.

Salah satunya adalah bangunan seluas kurang lebih 1500 meter persegi yang berada tepat di pojok sisi utara perempatan Jalan Sudirman Yogyakarta.

Bangunan ini sejak tahun 1980 difungsikan sebagai Museum TNI AD Dharma Wiratama.

Mengunjungi museum ini, pengunjung akan dibawa ke sebuah pengalaman menarik menuju masa masa di mana para pejuang berusaha mempertahankan Kemerdekaan yang telah susah payah diraih oleh bangsa Indonesia.

Transformasi Tiger Revo ke Cafe Racer

Pengunjung bisa menyaksikan langsung beragam koleksi senjata dan alat tempur yang menjadi saksi bisu kehebatan pertempuran yang dilakukan para pejuang di berbagai wilayah Indonesia kala itu.

Memasuki lobi museum pengunjung disambut dengan suasana museum yang kental dengan teknologi digital.

Pengunjung langsung disambut display holoscreen selamat datang bergambar kolase pejuang seolah mengantarkan para pengunjung ke lorong waktu menikmati dimensi lain yang menceritakan perjuangan para pahlawan kemerdekaan.

Di museum yang dulunya untuk pertama kali diselenggarakan Konferensi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga memutuskan pucuk pimpinan tertinggi angkatan perang yakni Jenderal Sudirman ini, pengunjung juga bisa merasakan pengalaman teknologi augmented reality yang memungkinkan pengunjung melakukan simulasi dengan atomosfer masa perjuangan.

Menurut Sukarjo, edukator museum ini, kini museum yang terletak di jantung kota Yogyakarta ini memang berbasis IT dalam sistem pengelolaan dan penyajian koleksinya.

Kisah Penjaga Sekolah di Karawang Tinggal Bersama Keluarga di Ruang Guru, Hanya Beralaskan Seprei

Halaman
1234
Penulis: yud
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved