Tempe Berstandar SNI Akan Diproduksi di Dusun Sumbermulyo Kepek Gunungkidul

Tidak hanya dengan standar SNI, tempe yang diproduksi juga akan menggunakan tenaga lokal dan kedelai lokal.

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Wisang Seto
Riyanto saat meniris kulit kedelai, yang nantinya kedelai tersebut masih diolah kembali untuk menjadi tempe, Jumat (6/9/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Tempe dengan standar nasional Indonesia (SNI) akan segera diproduksi di Dusun Sumbermulyo, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari.

Tidak hanya dengan standar SNI, tempe yang diproduksi juga akan menggunakan tenaga lokal dan kedelai lokal.

Pabrik tempe tersebut terdapat di Gunungkidul Agro Techno Park.

Pengelola Gunungkidul Techno Park, Adriana Yustina Nora, mengatakan di dalam Gunungkidul Techno park tidak hanya memilikik tempat pembuatan tempe, namun di dalamnya juga terdapat akuaponik, hidroponik, dan tempat budidaya lele.

Ia mengatakan Gunungkidul Techno Park sendiri bertujuan untuk memanfaatkan lahan kosong yang tidak terpakai di lokasi perkotaan.

"Tempe yang diproduksi akan berstandar SNI, Dan baru ada dua rumah produksi yang berstandar SNI di Indonesia rumah produksi lain baru sebatas izin PIRT. Dua rumah produksi tersebut berada di Bogor dan Surabaya," katanya, Jumat (6/9/2019).

Ia menjelaskan jika nanti sudah ada produk tempe, harga jualnya memang diyakini akan lebih tinggi dibandingkan tempe yang berada di pasaran.

Hal itu mengingat standar yang digunakan dan bahan-bahan yang digunakan untuk produksi tempe.

"Produksi tempe dengan memberdyakan masyarakat di Dusun Sumbermulyo. Tidak hanya tenaga kerja tetapi juga menggunakan bahan baku kedelai dari lokal. Hal tersebut untuk mensejahterakan petani kedelai lokal," katanya.

Menurutnya, jika tempe menggunakan bahan baku kedelai lokal kualitas yang didapat akan lebih baik dibandingkan dengan tempe yang berbahan baku kedelai impor.

Dari segi rasa juga lebih enak dibanding dengan kedelai impor.

"Maka dari itu harga yang kami patok akan lebih tinggi," imbuhnya.

Instruktur Rumah Tempe Indonesia (RTI) Bogor, Riyanto, mengatakan standardisasi SNI sudah terlihat dari alat yang digunakan untuk membuat tempe.

“Bahan dan mesin yang digunakan harus higienis, dari mesin saja sudah terbuat dari bahan stainless yang tidak mudah berkarat. Untuk kapasitas produksi awalnya kami menargetkan 100 kilogram tempe perharinya," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved