Yogyakarta

Kampung Buku Jogja, Memaknai “Rasa” Bersama Ayu Utami Dari Cerita Dewa Ruci

Dari kisah ini, Ayu jeli melihat nilai-nilai luhur warisan nenek moyang dari cerita Mahabarata yang sebenarnya masih sangat bisa diserap maknanya untu

Kampung Buku Jogja, Memaknai “Rasa” Bersama Ayu Utami Dari Cerita Dewa Ruci
Istimewa
Acara talkshow “Forum Umar Kayam : Rasa Alternatif Model Epistomologi Lokal” oleh Ayu Utami sebagai bagian dari acara Kampung Buku Jogja di Gedung PKKH Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (2/9/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kisah perjalanan Bima saat bertemu Dewa Ruci untuk memburu air kehidupan menjadi salah satu kiblat Ayu Utami dalam mengutarakan nilai-nilai kehidupan berdasar sudut pandang falsafah Jawa.

Dari kisah ini, Ayu jeli melihat nilai-nilai luhur warisan nenek moyang dari cerita Mahabarata yang sebenarnya masih sangat bisa diserap maknanya untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan di masa sekarang ini.

Momen saat Ayu menceritakan sekelumit kisah Dewa Ruci ini terjadi saat acara talkshow “Forum Umar Kayam : Rasa Alternatif Model Epistomologi Lokal” sebagai bagian dari acara Kampung Buku Jogja di Gedung PKKH Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (2/9/2019).

Meski terkesan sederhana, interaksi Ayu dengan peserta talk show nampak begitu intim.

Kampung Buku Jogja #3 Ditutup dengan 2 Gelaran Ini

Di kesempatan itu, Ayu banyak membeberkan pemahaman tentang kehidupan berkaitan dengan rasa yang ia racik di dalam salah satu bukunya berjudul “Anatomi Rasa” yang terbit tahun 2019 ini.

Semuanya, berasal dari satu kubah besar bernama nusantara melalui kisah spritiual sarat makna dari warisan cerita salah satunya Dewa Ruci dalam kitab Mahabarata tersebut.

“Empat unsur warna yang dilihat Bima saat ia bertemu Dewa Ruci adalah hitam, putih, kuning dan merah. Pada umumnya dari cerita Dewa Ruci, empat cahaya ini mencerminkan empat nafsu dalam diri manusia (tradisi jawa islam). Hitam adalah “wadah” (dorongan meniada), putih adalah “wiji” (dorongan kebenaran) lalu merah sebagai dorongan mengada,” kata Ayu.

Semua unsur tersebut menurut Ayu sebenarnya pada dasarnya Netral.

Tetapi jika ada satu unsur atau beberapa yang kadarnya berlebihan maka akan membawa ke hal yang buruk atau jelek.

Semua unsur ini sudah selayaknya ada karena dibutuhkan menuju jiwa yang suci atau juga bisa disebut tak berwarna.

Halaman
123
Penulis: sus
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved