Pendidikan

Rektor Asing Jadi Pimpinan PTS, Rektor PTS di DIY Sebut Kurang Pas Kalau Bertujuan Naikan Ranking

Rektor UAJY Yoyong Arfiadi menilai ketika tujuan PTS dipimpin oleh Rektor Asing hanya untuk menaikkan ranking, hal tersebut kurang tepat.

Rektor Asing Jadi Pimpinan PTS, Rektor PTS di DIY Sebut Kurang Pas Kalau Bertujuan Naikan Ranking
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Saat ini sudah ada satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang mulai dipimpin oleh Rektor Asing, yakni Institut Pendidikan Siber Indonesia dengan Rektor Jang Youn Cho.

Melihat hal tersebut, Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Yoyong Arfiadi menilai ketika tujuan PTS dipimpin oleh Rektor Asing hanya untuk menaikkan ranking, hal tersebut kurang tepat.

Yoyong menerangkan, sebenarnya tidaklah masalah jika sebuah Perguruan Tinggi dipimpin oleh Rektor Asing, namun banyak aspek yang seharusnya dipertimbangkan, seperti kultur maupun sistem penggajian.

"Kalau saya tidak masalah, tapi kalau tujuannya untuk menaikan ranking kurang pas. Kurang pas bukan berarti tidak setuju. Kita tahu rata-rata penghasilan dosen dan Rektor ketika dibandingkan dengan Perguruan Tinggi yang ada di luar negeri berbeda jauh," ungkapnya pada Tribunjogja.com, Selasa (27/8/2019).

Palette X Wardah: Tutorial Make Up ke Kondangan yang Antiribet

Yoyong menjelaskan, ketimbang mendatangkan Rektor Asing, mendatangkan Dosen Asing dirasa lebih pas.

Selain itu, peningkatan penelitian dan publikasi inilah yang saat ini perlu menjadi perhatian.

"Yang penting adalah Dosennya. Itu bisa menjadikan atmosfer. Kendala kita saat ini adalah kebanyakan penelitian dan publikasi itu kurang. Kedua Dosen kebanyakan kan masih S2, kalau di luar negeri kan kebanyakan sudah S3. Kalau di UAJY tergantung dari Yayasan," ungkapnya.

Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) saat dikonfirmasi beberapa saat lalu menerangkan satu di antara kendala bagi Perguruan Tinggi untuk bisa meningkatkan kualitas satu di antaranya yakni energi Perguruan Tinggi terkuras untuk mengurusi hal yang bersifat administratif daripada meningkatkan kualitas.

Menurutnya ketika mendatangkan Rektor Asing hanya untuk ranking-rankingan, hal tersebut dirasa kurang pas.

Isu Rektor Asing Alias Impor Rektor, Moeldoko Jelaskan Rencana Pemerintah

"Bisa jadi akar masalahnya itu beragam, misalnya jangan-jangan di Indonesia kalau urus Perguruan Tinggi terlalu banyak beban administratifnya. Harus laporan ini dan itu, yang tidak punya andil dalam meningkatkan kualitas tapi menyita energi yang lumayan banyak. Misi dari adanya Perguruan Tinggi tersebut juga harus dipikirkan, apakah adanya Perguruan Tinggi hanya untuk ranking-rankingan, ataukah untuk memecahkan masalah publik yang ada," ungkapnya.

Selain itu, Fathul memandang, konteks yang ada di luar negeri cukup berbeda dengan Indonesia.

Oleh karenanya, tidak perlu semuanya harus seragam.

"Konteks negara lain beda dengan kita, tidak bisa. Kalau disana begitu, harus dilihat di sini dulu dong. Misalkan kita dengan Singapura kan beda jauh. Tidak harus sama. Masalah lokalnya berbeda, rumit memang," terangnya. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved