Gunungkidul

PDAM Tirta Handayani Targetkan Perluasan Saluran Rumah Tangga ke 2.465 Titik di Gunungkidul

PDAM Tirta Handayani pada tahun ini menambah instalasi perpipaan untuk mengatasi kekeringan yang melanda Kabupaten Gunungkidul setip tahunnya.

PDAM Tirta Handayani Targetkan Perluasan Saluran Rumah Tangga ke 2.465 Titik di Gunungkidul
nrwa.org
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani pada tahun ini menambah instalasi perpipaan kepada masyarakat untuk mengatasi kekeringan yang melanda Kabupaten Gunungkidul setiap tahunnya.

Direktur PDAM Tirta Handayani, Isnawan mengatakan, pihaknya pada tahun ini menargetkan saluran pipa sebanyak 2.465 Saluran Rumah tangga.

"Hingga Bulan Juli 2019 kami sudah memasang sebanyak 1.987 dan kami optimis pada tahun ini dapat memenuhi target sebesar 2.465," katanya pada Tribunjogja.com.

Palette X Wardah: Tutorial Make Up ke Kondangan yang Antiribet

Lanjutnya dalam penambahan saluran tersebut tetap mengandalkan dari tiga sumber air yang ada di Kabupaten Gunungkidul seperti sumber bor (SB) di Tawarsari yang menghasilkan 7,5 liter perdetik, SB Karangrejek 12 liter perdetik, dan Sungai bawah tanah (SBT) Seropan yang menghasilkan 40 liter perdetik.

"Saat ini ketiga sumber tersebut sedang dilakukan pembangunan infrastruktur pendukung yaitu memasang listrik dan pompa listrik," ucapnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, hingga saat ini pihaknya telah menghabiskan separuh lebih anggaran untuk mengatasi kekeringan.

Pengusaha Asal Gunungkidul Kirim Thiwul ke Selandia Baru

"Kami sudah menghabiskan anggaran kurang lebih Rp 300 juta, sedangkan anggaran kami sebesar Rp 530 juta. Prediksi kami musim kemarau hingga bulan oktober nanti," katanya.

Lanjut Edy jika hingga bulan Oktober tidak kunjung hujan dan anggaran penanggulangan kekeringan habis maka pihaknya dapat berkoordinasi dengan provinsi hingga pemerintah pusat untuk menambah anggaran.

"Otomatis nanti statusnya akan naik menjadi darurat kekeringan saat anggaran habis dan masih mengalami kekerigan. Selain koordinasi dengan provinsi dan pusat kami juga bisa mengakses Bantuan Tidak Terduga (BTT)," pungkasnya. (*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved