Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan, Pakar Geologi UGM Sebut Dua Hal Ini Harus Jadi Pertimbangan

Dalam pemilihan lokasi untuk ibu kota baru, setidaknya ada dua hal yang harus dipertimbangkan

Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan, Pakar Geologi UGM Sebut Dua Hal Ini Harus Jadi Pertimbangan
Tribunkaltim.co/Fachmi Rahman
Presiden RI Joko Widodo saat meninjau Tahura Bukit Soeharto di Jalan Tol Balikpapan-Samarinda untuk menentukan lokasi ibu kota baru, Selasa (7/5/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pakar Geologi UGM, Dr Wahyu Wilopo, mengungkapkan dalam pemilihan lokasi untuk ibu kota baru, setidaknya ada dua hal yang harus dipertimbangkan yakni sesumber dan ancaman bencana.

Wahyu mengatakan sesumber tersebut berupa air maupun bahan-bahan alam yang bisa digunakan untuk membangun seperti batu, pasir.

"Kalau di Kalimantan ada air tapi sepengetahuan saya memang di beberapa wilayah itu air memang sulit. Kalau masuk ke pedalaman air tipikal asam karena daerah gambut, tambang," katanya, Senin (26/8/2019).

Lebih lanjut ia memaparkan, struktur tanah di Kalimantan merupakan daerah dengan tanah gambut.

"Maka kalau kita ingin membangun itu perlu struktur yang khusus. Kemudian dari topografinya sedikit berbukit-bukit itu akan menjadi pertimbangan sendiri," ujarnya.

Yang kedua, dalam menentukan lokasi ibu kota baru, ia menyebut ancaman bencana juga harus diperhatikan.

Ancaman bencana itu bisa berasal dari lingkungan  yang akan dikembangkan atau bisa berasal dari luar yang nantinya dapat mempengaruhi lokasi itu.

Lanjutnya, ancaman bencana yang rentan terjadi di Indonesia misalnya gempa, gunung api, tsunami, bencana-bencana geologi seperti longsor, banjir.

"Dari sisi bencana, kalau kita lihat di daerah yang paling stabil karena jarang terjadi gempa itu di Kalimantan. Tapi bukan berarti di Kalimantan tidak ada sejarah gempa, statement dari BMKG itu ada yang mengatakan ada gempa karena di sana memang ada patahan tetapi memang relatif lebih stabil dibanding wilayah lain," jelasnya

Wahyu menuturkan ancaman bencana yang kerap terjadi di Kalimantan seperti banjir dan kebakaran hutan.

"Kalau kita lihat di Indonesia semuanya memang daerah rawan. Kalau mengembangkan sesuatu di manapun harus tahu dulu di mana operasi baik sesumber atau potensi bencana seperti apa, sehingga kita bisa antisipasi," terangnya. (*)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved