Gunungkidul

Sekolah Kebhinekaan untuk Tanamkan Pancasila pada Generasi Muda Indonesia

Sekolah kebhinnekaan Gunungkidul yang diadakan pada tanggal 24-25 didik siswa untuk terampil dalam menjaga toleransi umat beragama di tengah masyaraka

Sekolah Kebhinekaan untuk Tanamkan Pancasila pada Generasi Muda Indonesia
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Sekolah kebhinnekaan Gunungkidul yang diadakan pada tanggal 24-25 didik siswa untuk terampil dalam menjaga toleransi umat beragama di tengah masyarakat majemuk.

Dari siaran pers yang diterima, Kepala Sekolah Kebhineekaan Gunungkidul angkatan III, H. Lutfi Kharis Mahmud mengatakan sekolah kegiatan tersebut dilakukan mengingat arus informasi yang berkembang secara pesat sehingga masyarakat harus terampil dalam merawat toleransi.

“Hal yang sangat penting dan mendasar adalah untuk para generasi muda agar tidak menduakan dasar negara. Pancasila harus mendarah daging pada diri kata dan perbuatan anak muda ditengah berbagai ancaman dan godaan,” kata Lutfi pada pembukaan kegiatan, Sabtu (24/8/2019).

Jelajah Kebangsaan, Upaya Merawat Kebhinekaan di Tengah Tantangan Demokrasi

Ia menjelaskan dalam sekolah kebhinnekaan ini menjadi ciri khas kegiatan Kabupaten Gunungkidul yang dilakukan secara mandiri dan inisiatif lintas organisasi keagamaan.

"Setiap tahunnya dari organisasi-organisasi keagamaan mengirimkan peserra dan tenaga fasilitator untuk pembelajaran di lapangan maupun kelas," ujarnya.

Ia mengatakan ada berbagai organisasi keagamaan di Gunungkidul seperti, GP Anshor NU, Klasis GKJ, Rayon Katolik Paroki Santo Petrus Kanisius, Majelis Budhayana Indonesia, Parisadha Hindu Darma Indonesia, Fatayat NU, Badan Kerja Sama Gereja Kristen, Jamaah Ahmadiyah Indonesia, Lembaga Dakwah Islam Indonesia.

"Kegiatan di luar sekolah ini ditujukan kepada anak muda, untuk tetap menjaga toleransi dan membangun persaudaraan lintas agama secara lahir batin yang selama ini cenderung masih bersifat teoritis," katanya.

Dirinya menyampaikan pola kegiatan sekolah kebhinnekaan Gunungkidul yang mulai diadopsi beberapa kabupaten dan kota lain cukup unik dalam pelaksanaan setiap angkatan.

Sepotong Bhineka Tunggal Ika dalam Caping dan Kipas

"Peserta sekolah kebhinnekaan menginap atau ‘live in” di rumah-rumah ibadah secara bergiliran dari mulai gereja, pura, pondok pesantren, dan vihara, dengan tujuan untuk semakin memperkaya pengalaman hidupnya," katanya.

Fasilitator Sekolah Kebhinnekaan, Albertus Wahyu Widayat, menambahkan, ada beberapa materi pokok dan cukup mendasar yang harus dilalui para peserta utusan semua komunitas agama sampai dinyatakan lulus, seperti ; Teori Identitas, Pengelolaan media sosial sebagai alat kampanye keberagaman, pemahaman Pancasila dan Konstitusi, perjumpaan dan dialog tokoh agama, Dasar resolusi konflik, Pengelolaan keberagaman dengan pendekatan hak asasi manusia beragama, Membangun komunitas keberagaman dan berbagai pembelajaran memperkuat keberagaman Indonesia.

"Ada berbagai pihak yang dilibatkan Sekolah kebhinnekaan Gunungkidul seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarya, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Lembaga Kajian Islam dan Studi (LKiS), ANBTI, Forum Lintas Iman, dan Kantor Kementrian Agama Kabupaten Gunungkidul," ujarnya.

Satu diantara peserta sekolah kebhinnekaan Rini Krisnawati, kader IPPNU peserta utusan dari PCNU Gunungkidul menyampaikan rasa senangnya bisa mengikuti kegiatan kali ini.

“Selama ini saya penasaran cara ibadah agama lain akhirnya terjawab pada kegiatan kali ini,” ucapnya.

Dirinya juga dikejutkan ketika lagu "Yalal Wathon" dinyanyikan oleh paduan suara Katholik.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved