Tak Punya Modal Beli BBM untuk Melaut, Nelayan di Gunungkidul Terjerat Utang Tengkulak

Kami para nelayan berharap ada solusi untuk mengatasi masalah ini agar tidak sangat tergantung dengan para tengkulak

Tak Punya Modal Beli BBM untuk Melaut, Nelayan di Gunungkidul Terjerat Utang Tengkulak
Tribun Jogja/Suluh Prasetyo
Nikmati sajian Harian Tribun Jogja hari ini 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Nelayan Pelabuhan Sadeng, Songbanyu, Girisubo tidak bisa tentukan sendiri harga jual ikan yang didapat dari hasil melaut. Pasalnya, mereka terjerat utang dengan tengkulak.

Nelayan harus berutang dengan tengkulak lantaran nelayan tidak memiliki modal yang mencukupi untuk melaut, sehingga mau tidak mau nelayan harus menjual ke para tengkulak.

Sutoyo, seorang nelayan mengungkapkan, nelayan sulit untuk memenuhi biaya operasional untuk melaut. Ia juga mencontohkan untuk kapal 10 GT bisa menghabiskan bahan bakar sebanyak 12 jeriken.

"Kami harus menempuh sejauh 150 mil untuk melaut karena ikan di daerah sini sudah habis. Untuk menutupinya kami harus bekerja ekstra agar mendapatkan tangkapan banyak," katanya, Kamis, (22/8/2019).

Ia menyampaikan nelayan sekali melaut bisa memakan waktu hingga 10 hari, jika dalam 10 hari tersebut hanya mendapatkan ikan sebanyak ikan 1 ton para nelayan tidak akan mendapat apa-apa.

"Kami para nelayan berharap ada solusi untuk mengatasi masalah ini agar tidak sangat tergantung dengan para tengkulak. Karena jika tergantung dengan tengkulak para nelayan hanya bisa menurut saja," ungkapnya.

Sutoyo mengatakan harga jual ikan yang dipatok cenderung turun. Ia menyontohkan beberapa tahun lalu ikan cakalang dengan kualitas bagus bisa dijual seharga Rp13 ribu sedangkan saat ini hanya seharga Rp11 ribu per kilogramnya. 

Berita selengkapnya, simak di edisi cetak Tribun Jogja hari ini.  (*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: wid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved