Kulon Progo

SMA Negeri 1 Sentolo Tangkal Hoaks dengan Pemahaman Literasi

Gerakan literasi mestinya tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan mengolah informasi, tapi juga menuangkan informasi dalam wujud karya tulis.

SMA Negeri 1 Sentolo Tangkal Hoaks dengan Pemahaman Literasi
TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu
Workshop bertajuk Cerdas Mengelola Informasi: Teori dan Praktik Literasi Media untuk Siswa digelar SMAN 1 Sentolo 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemahaman literasi yang kuat bisa menjadi modal dasar masyarakat, khususnya generasi muda untuk menangkal berita bohong atau hoaks.

Hal itu sangat penting di tengah era banjir informasi (overload information) saat ini.

Direktur Studi Literasi Demokrasi dan Budaya (StiL-Daya), Marwanto menyebut, kondisi banjir informasi sudah pernah diprediksi dalam buku berjudul Future Shock yang terbit pada sekitar 1970.

Uniknya Sego Penggel Khas Kebumen di Watoe Gajah

Hal itu kini menjadi kenyataan di mana informasi begitu mudah datang dan membanjiri ruang disertai beredarnya berita bohong yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

“Jika tidak cerdas menyikapi, membanjirnya informasi bisa menjadikan orang stres, ragu-ragu, dan sering membuat keputusan yang tidak tepat. Apalagi kalau yang dikonsumsi adalah berita hoax, bisa menyesatkan," kata Marwanto dalam keterangan yang diterima Tribunjogja.com, Kamis (15/8/2019).

Atas hal tersebut, pihaknya bersama SMA Negeri 1 Sentolo menggelar workshop bertajuk Cerdas Mengelola Informasi: Teori dan Praktik Literasi Media untuk Siswa, Senin (12/8/2019) lalu di sekolah tersebut.

Kulon Progo Pastikan Warga Miskin Tetap Ditanggung Biaya Pengobatan

Acara dalam Pekan Seni Budaya untuk memeriahkan HUTke-40 SMA N 1 Sentolo itu diikuti puluhan siswa SMA/SMK di Kulon Progo.

Menurut Marwanto, siswa siswa perlu selektif menghadapi informasi yang beredar atau diterima.

Informasi apa saja, baik yang menyangkut pelajaran maupun umum, mestinya harus ada kroscek atau pembanding dab tidak langsung ditelan mentah-mentah.

Ia menambahkan, gerakan literasi mestinya tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan mengolah informasi, tapi juga menuangkan informasi yang didapat dalam wujud karya tulis.

Pramuka Kulon Progo Deklarasi Anti Rokok

Ketua Gerakan Literasi SMA 1 Sentolo, Siti Banat membenarkan selama ini di lingkungan sekolah gerakan literasi baru dipahami sebagai aktivitas membaca.

Hal itu ditandai aktivitas siswa dalam membaca buku non-pelajaran selama 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai.

Masih minim ajakan pada siswa untuk giat menulis.

“Karena itu, tindak lanjut dari workshop ini peserta diwajibkan membuat dua tulisan, yakni berita aktual (hard-news) dan berita kisah (feature). Tulisan karya siswa akan dinilai dan pemenangnya diumumkan awal September mendatang,” terang Siti.(*)

Penulis: ing
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved