Yogyakarta

Berbahaya, Mencuci Jeroan di Sungai

Sumber pencemar sungai akan bertambah banyak dan beban yang harus ditanggung biota sungai sangai sangat berat.

Berbahaya, Mencuci Jeroan di Sungai
TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Warga membersihkan jeroan di selokan mataram, Minggu (11/8/2019) 

Sumber pencemar sungai akan bertambah banyak dan beban yang harus ditanggung biota sungai sangai sangat berat.

Dengan kegiatan ini maka ekosistem di air pun justru akan terancam.

"Jeroan hewan memiliki kandungan konsentrat yang tinggi pemicu e-coli, terutama e-coli tinja," paparnya.

Ia sebenarnya telah sering memberikan pemahaman sejak tiga tahun terakhir untuk tidak mencuci jeroan di sungai.

Menurutnya, ada sejumlah masyarakat yang sudah menyadari sehingga tidak lagi membuang jeroan hewan kurban ke sungai.

Dapat Jeroan Saat Kurban Idul Adha? Ini Resep Gulai Otak Kambing yang Tak Prengus dan Enak

"Mereka membuat lubang untuk buangan menyiapkan air utk mencuci jeroan dan membuat resapan tersendiri.
Pun begitu masih banyak yang ambil praktisnya saja dengan membuang dan mencuci langsung jeroan ke sungai," paparnya.

Pihaknya pun akan terus memberikan edukasi ke masyarakat meskipun perubahanya dirasa pelan.

"Butuh waktu kesadaran menjadi tindakan. Maka, kami akan terus mengedukasi publik, meski perubahannya pelan sekalipun. Ini salah satu tantangan bersama," paparnya.

Sementara itu Kabid Peternakan dari Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Harjanto mengatakan jeroan yang dicuci di sungai akan terkontaminasi oleh air sungai yang tidak bersih.

"Karena sungai air tidak juga bersih. Kegiatan ini juga mencemari air sungai yang masih digunakan oleh masyarakat untuk nyuci dan bercocok tanam, kadang untuk mandi," ujarnya.

Sebelumnya ia sudah menganjurkan untuk membersihkan jeroan dengan merendam di air kapur.

"Makin pekat makin bagus. Kalau dibersihkan air saja tidak bersih tuntas. Dengan air kapur bisa dibersihkan dengan cepat," jelasnya.

Dengan tidak mencuci jeroan di sungai, maka warga turut menjaga kualitas sungai, terlebih saat ini debit air sedang menurun karena musim kemarau.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: nto
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved