Bisnis

Perusahaan Pembiayaan di Yogyakarta Alami Pertumbuhan yang Fluktuatif

Pada Maret 2019, OJK menyatakan industri multifinance tumbuh senilai 3,17 persen dengan nominal pembiayaan senilai Rp4,45 miliar.

Tayang:
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Gaya Lufityanti
makemymoney.com
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Laju pertumbuhan perusahaan pembiayaan (multifinance) di wilayah DIY, menunjukkan kondisi yang cukup signifikan di beberapa bulan terakhir pada semester pertama 2019.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY dalam rentang tiga bulan terakhir yakni Maret-Mei, perusahaan pembiayaan membukukan catatan yang cukup positif.

Pada Maret 2019, OJK menyatakan industri multifinance tumbuh senilai 3,17 persen dengan nominal pembiayaan senilai Rp4,45 miliar.

Palette: Tips Merawat Wajah Saat Musim Panas

Sementara di April disebutkan juga membaik dengan pertumbuhan senilai 3,67 persen dan menyalurkan kredit di angka Rp 4,47 miliar.

Sementara di Mei, tumbuh semakin signifikan dengan 5,12 persen dan membukukan penyaluran kredit senilai Rp 4,53 miliar.

Dari angka di atas, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman masih menjadi jumlah penyumbang terbesar dari nominal penyaluran kredit.

Sementara Kabupaten Kulonprogo, menjadi wilayah dengan sumbangsih penyaluran kredit paling rendah.

Kondisi ini bertolak belakang dengan pengakuan perusahaan pembiayaan.

PT BCA Finance Yogyakarta mengklaim bahwa pertumbuhan perusahaan pembiayaan cenderung melambat bahkan stagnan sepanjang kurun waktu semester pertama 2019.

Perum Jamkrindo Dorong UMKM Tumbuh Subur Lewat Penjaminan Kredit

"Kalau trennya masih stagnan ya," kata Kepala Cabang PT BCA Finance Yogyakarta, Tulus Widodo pada Tribunjogja.com, Jumat (9/8/2019).

Ia menjelaskan beberapa sebab yang disinyalir mengakibatkan kondisi tersebut.

Satu di antaranya yakni kondisi dimana masyarakat tengah memasuki musim masuk sekolah, sehingga pengeluaran cenderung beralih ke sektor tersebut.

Dipaparkannya bahwa, memasuki awal tahun 2019, tren pertumbuhan perusahaan pembiayaan cukup optimal.

Kemudian hingga memasuki periode Maret dan April penyaluran kredit kemudian jatuh melambat.

"Memasuki Mei mau lebaran penjualan naik, tapi setelah lebaran di bulan Juni penjualan kembali turun di karenakan efektif kerja kita cuma dua pekan," imbuhnya.

"Ditambah habis lebaran mungkin calon konsumen atau pembeli mobil sudah kehabisan uang buat lebaran dan bayar sekolah," imbuhnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved