Kesehatan

Penyebab ASD Belum Bisa Dipahami Secara Pasti

ASD ini lebih banyak menyerang anak laki-laki dengan prevelensi 1:37, sedangkan pada anak perempuan 1:151.

Penyebab ASD Belum Bisa Dipahami Secara Pasti
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
Temu media dalam Seminar Umum Autism Spectrum Disorder yang diadakan pada Kamis (8/8/2019) di Gedung Sekolah Paska Sarjana, UGM. 

TRIBUNJOGJA.COM - Dari tahun ke tahun, angka kejadian Autism Spectrum Disorder (ASD) semakin meningkat.

Namun, sampai dengan saat ini, penyebab dari ASD belum bisa dipahami secara lengkap.

Dari informasi yang dihimpun Tribunjogja.com, ASD sendiri merupakan gangguan perkembangan otak (neurodevelopment) yang ditandai dengan adanya gangguan dan kesulitan penderita untuk berinteraksi sosial, berkomunikasi baik verbal maupun non-verbal, serta adanya gangguan perilaku, minat dan aktifitas yang terbatas, berulang dan stereotipik.

Mei Neni Sitaresmi, Pakar Kesehatan Anak sekaligus Koordinator kegiatan Seminar Umum Autism Spectrum Disorder yang diadakan pada Kamis (8/8/2019) di Gedung Sekolah Paska Sarjana, UGM menerangkan dari Data Center for Desease Control and Prevention (CDC, 2018), ada peningkatan penderita ASD.

Palette: Tips Merawat Wajah Saat Musim Panas

Dari 1 per 150 populasi pada tahun 2000 menjadi sebesar 1 per 59 pada tahun 2014.

Menurutnya, ASD ini lebih banyak menyerang anak laki-laki dengan prevelensi 1:37, sedangkan pada anak perempuan 1:151.

"Merujuk pada data prevelensi tersebut, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sebesar 237,5 juta dengan laju pertumbuhan penduduk 1,14% diperkirakan memiliki angka penderita ASD sebanyak 4 juta orang," ungkapnya.

Meski demikian, sampai dengan saat ini penyebab dari ASD belum bisa dipahami dengan lengkap.

Mei menerangkan, dugaan penyebab ASD ini bersifat multifaktor, yakni kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan.

Pemkab Bantul Diminta Sediakan Layanan Terapi Autis

Selain itu, dugaan pemicu dari ASD ini yakni tuanya usia ibu pada saat melahirkan, penyulit kehamilan dan persalinan (ibu hamil dengan DM, prematur, asfiksia, infeksi bayi) serta faktor lingkungan (racun) yang menyebabkan gangguan perkembangan otak.

"Dari hasil penelitian membuktikan, tidak ada hubungan antara vaksin dengan ASD. Karena kompleknya permalasahan ASD, maka penderita memerlukan tata laksana yang komprehensif dari berbagai sumber disiplin ilmu, seperti dokter, perawat, psikologi, pendidik, dukungan keluarga dan masyarakat," ungkapnya.

Lebih lanjut Mei menerangkan, sebagian besar anak ASD sudah menunjukkannya gejala sejak dini, oleh karenanya sejatinya ASD bisa didiagnosis pada anak sebelum usia 2 tahun.

Ketika diagnosis tersebut dilakukan sejak dini, anak akan mendapatkan penanganan yang tepat, sehingga memiliki peluang yang lebih baik di masa depan

"Dengan adanya seminar ini, diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat. Pertama menggerakkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap penderita ASD, kedua memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait deteksi dini pada penderita ASD," ungkapnya. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved