Yogyakarta

Pengangguran Lulusan SMK di Yogyakarta Turun

Angka pengangguran lulusan SMK mencapai 15.882 orang, dari jumlah keseluruhan angkatan kerja SMK sebanyak 421.248 orang.

Pengangguran Lulusan SMK di Yogyakarta Turun
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Februari 2019, angka pengangguran lulusan SMK mencapai 15.882 orang, dari jumlah keseluruhan angkatan kerja SMK sebanyak 421.248 orang.

Sriyati, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY, menerangkan jika dibandingkan dengan data pada Agustus 2018 lalu, jumlah pengangguran lulusan SMK mengalami penurunan, yakni sebelumnya sebanyak 24.260 orang.

"Untuk SMK yang sudah bekerja ada sebanyak 405.366 orang. Jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2019, data tersebut mengalami penurunan," ungkapnya pada Tribunjogja.com.

Palette: Tips Merawat Wajah Saat Musim Panas

Sriyati menjelaskan, survei tersebut merupakan survei yang dilakukan oleh BPS, yang mana hal tersebut tidak bisa menggambarkan mengenai nama dan alamat yang lebih detail di setiap Kabupaten/Kota.

Didik Wardaya, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Disdikpora DIY mengungkapkan, sampai dengan saat ini  sudah banyak jurusan di SMK yang pelaksanaannya mengikuti perkembangan revolusi industri.

"Banyak yang disesuaikan, tapi kemudian tidak langsung melupakan yg lama. Misalnya otomotif yang berkembang. Tadinya karburator, injeksi sistem, kan berkembang. Itu yg harus kita sesuaikan. Antara teknologi dan ilmu pengetahuan itu harus bareng," katanya.

Pengangguran Terbuka di Sleman Capai 4,4 Persen, Lulusan SMA Mendominasi

Menurutnya, untuk data pengangguran SMK kebanyakan hanya didasarkan pada anak yang mengambil kartu kuning saja.

Yang mana seringkali lulusan SMK ketika lulus tidak mengambil kartu kuning.

Bukan hanya itu, menurutnya, lulusan SMK juga banyak yang bekerja pada sektor informal, seperti di catering, sehingga hal tersebut belum terdata.

"Untuk SMK, kalau dihitung-hitung, yang secara formal berkisar 30-40%, yang informal mungkin lebih banyak. Jadi kalau hanya melihat data yang mencari kartu kuning mungkin hanya sedikit. Seakan yang tidak cari kartu kuning dianggap menganggur," ungkapnya. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved