Pendidikan

UI dan UGM Gelar Simposium Antropologi

Melalui Simposium Internasional JAI 2019, diharapkan para pakar dan praktisi kebudayaan bisa memberikan kontribusi dalam mewujudkan integrasi nasional

UI dan UGM Gelar Simposium Antropologi
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
International Symposium of Journal Antropologi Indonesia (ISJAI) yang diadakan di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia bersama dengan Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada pada Selasa (23/7/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Kajian mengenai kebudayaan dirasa penting di saat tren yang ingin membentuk wajah dunia dengan identitas homogen dan mungkin terbawa gelombang globalisasi budaya.

Gatot Saptadi, Sekretaris DIY yang membacakan sambutan Sultan Hamengkubuwono X dalam International Symposium of Journal Antropologi Indonesia (ISJAI) yang diadakan di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia bersama dengan Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta pada Selasa (23/7/2019) mengatakan, jika tren tersebut merupakan tantangan yang bisa dijawab dalam prespektif antropologi.

Lemari Lila Padukan Kain Batik dan Desain Kasual

Berkaca pada masa lalu, menurutnya Nusantara merupakan suatu bangsa yang dikenal memiliki peradaban yang maju, di mana Indonesia Timur, Pantai Timur dan Utara Jawa memiliki perdagangan yang dikenal dunia.

"Ke mana lenyapnya masa kejayaan itu? Simposium ini adalah momen yang tepat menemukan jawaban bagaimana Indonesia bisa mencapai kejayaan lagi dan hal apa yang perlu dipersiapkan," terangnya saat ditemui Tribunjogja.com di lokasi acara.

Menurutnya, para ahli ilmu pengetahuan bukan hanya memiliki kewajiban untuk mengembangkan ilmu yang diperolehnya, namun juga menyalurkan kepada masyarakat luas.

Gatot mengungkapkan, ilmu yang disalurkan tersebutlah yang paling penting untuk bisa menjadikan Nusantara kembali menemukan kejayaannya.

UGM Uji Coba Amphibi Gama V2

"Pengembangan ilmu yang ditanamkan di hulu bisa digunakan untuk basis di hilir, bisa menjadikan pengetahuan yang berguna bagi yang lain. Ilmu bukan hanya membangun menara gading, tapi memiliki kegunaan bagi masyarakat," katanya.

Ketua Simposium Internasional JAI & Festival Adat dan Seni Budaya, Suzie Handajani menyampaikan, dalam konteks bidang ilmu antropologi, Indonesia menyediakan kasus-kasus komprehensif tentang perjalanan suatu bangsa dan negara.

Menurutnya, Indonesia lahir dari sekumpulan komunitas yang dibayangkan dengan berbagai latar belakang etnisitas, budaya, dan agama.

Maka itu, konsep persatuan menjadi penting bagi bangsa ini.

Terinspirasi Shock Breaker Motor, Mahasiswa UGM Rancang Bangunan Tahan Gempa

Dalam perjalanan sejarahnya, penekanan pada persatuan ini pernah membuat Indonesia terperangkap dalam bentuk tunggal, tersentralisasi, dan menyangkal keberagaman.

"Pada simposium keenam, kami telah membahas bagaimana perubahan yang dibawa oleh Reformasi memungkinkan Indonesia mengalami serangkaian cobaan keras untuk hidup dalam keberagaman. Situasi ketika itu, ekspresi-ekspresi dan simbol-simbol etnis (suku bangsa), ideologis, dan agama seperti menemukan momentum yang tepat untuk bangkit kembali," terangnya.

Melalui Simposium Internasional JAI 2019, diharapkan para pakar dan praktisi kebudayaan bisa memberikan kontribusi kepada pemikiran alternatif mengenai bagaimana menjawab berbagai tantangan ke depan dalam mewujudkan integrasi nasional. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved