Gunungkidul

Berkualitas Premium, Garam Asal Pantai Dadap Ayam Sulit Dipasarkan

Garam petani di Desa Kanigoro yang masuk kualitas premium membuat para petani kesulitan dalam memasarkan produknya.

Berkualitas Premium, Garam Asal Pantai Dadap Ayam Sulit Dipasarkan
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto Pangaribowo
Lokasi garam di pantai Dadap Ayam, Kecamatan Kanigoro, nampak sepi saat dikunjungi, Rabu (17/7/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Garam petani di Desa Kanigoro yang masuk kualitas premium membuat para petani kesulitan dalam memasarkan produknya.

Hal tersebut diakui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Gunungkidul.

Kepala DKP Gunungkidul, Krisna Berlian mengatakan, saat ini masyarakat masih mengesampingkan kualitas garam sehingga garam kualitas premium menjadi kurang diminati oleh masyarakat.

Lemari Lila Padukan Kain Batik dan Desain Kasual

"Harga garam biasa atau kualitas rendah hanya Rp 1.500 perkilonya sedangkan garam kualitas premium mencapai Rp 7.500," imbuhnya pada Tribunjogja.com, Rabu (17/7/2019).

Krisna sudah bertemu dengan para petani dan menyarankan untuk menurunkan harga jual garam milik petani di Kanigoro tetapi hal tersebut ditolak oleh para petani.

"Ibaratnya para petani adalah perusahaan yang sedang memperkenalkan produk barunya, bisa dengan cara menurunkan harga Rp 4.500 itung-itung untuk promosi, tetapi usulan saya ditolak oleh para petani," ujar Krisna.

Hal berbeda diungkapkan oleh bendahara kelompok petani garam Dadap Makmur, Pantai Dadap Ayam, Triyono.

Menurutnya saat ini yang menjadi kendala dalam pemasaran garam yang dihadapi kelompok adalah belum keluarnya uji laboratorium.

"Uji lab belum keluar sehingga kami hanya memasarkan diwarga sekitar belum bisa dipasarkan keluar dari Pantai Dadap Ayam. Uji lab dilakukan sejak tiga bulan yang lalu," katanya.

Disdukcapil Gunungkidul Kehabisan Blangko E-KTP

Menurutnya, uiji laboratorium dibutuhkan untuk mengetahui kandungan garam di Pantai Dadap Ayam sehingga akan meyakinkan konsumen dari luar daerah jika garam produksi petani benar-benar berkualitas.

"Dengan adanya uji lab kami jadi mempunyai pasar yang pasti, dan akan mempermudah para petani garam untuk memasarkan garam kepada masyarakat," katanya.

Dalam satu bulan petani garam kelompok Dadap Makmur dapat menghasilkan garam sebanyak 800 kilogram hingga 1 kwintal.

Jumlah tersebut didapat dari 10 rumah produksi garam.

"Kita sekarang memasarkan ke masyarkat sekitar dengan harga Rp 2 ribu perkilonya, harapan dari kelompok adanya pasar yang pasti untuk menampung produk garam kami. Semoga hasil uji lab dapat segera turun karena itu yang dibutuhkan oleh para petani," katanya.(*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved