PSIM Yogyakarta

PSIM Jogja Ingin Beri Kemenangan Sebagai Kado Perpisahan untuk Vlado

Kemenangan pun dibidik Laskar Mataram sebagai kado perpisahan untuk Vlado, sapaan akrab Vladimir Vujovic.

PSIM Jogja Ingin Beri Kemenangan Sebagai Kado Perpisahan untuk Vlado
Tribunjogja.com | Hasan Sakri
Pelatih PSIM Yogyakarta, Vladimir Vujovic, memberikan instruksi kepada Raphael Maitimo pada laga kontra Persik Kediri di Stadion Sultan Agung, Bantul, beberapa waktu lalu. 

PSIM Jogja Ingin Beri Kemenangan Sebagai Kado Perpisahan untuk Vlado

TRIBUNJOGJA.COM - Laga PSIM Yogyakarta versus PSBS Biak, dalam lanjutan Liga 2 2019, di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (14/7/2019), dipastikan menjadi akhir dari kiprah singkat headcoach, Vladmir Vujovic, bersama Laskar Mataram.

Sebagaimana diketahui, juru taktik asal Montenegro tersebut memutuskan undur diri dari singgasana kepelatihan PSIM, setelah menelan hasil buruk berupa kekalahan dalam dua pertandingan terakhir.

Menurutnya, hal itu menjadi perseden buruk dalam karir kepelatihannya. Kemenangan pun dibidik Laskar Mataram sebagai kado perpisahan untuk Vlado, sapaan akrab Vladimir Vujovic.

"Tentu persiapan akan kami lakukan yang terbaik, seperti persiapan normal yang kami lakukan sepanjang kompetisi. Kalau pertandingan besok kita berhasil menang, kita bita bisa mendekati tim lain di papan atas karena kita mempunyai laga yang lebih sedikit dibandingkan tim lain sementara ini," kata eks bek Persib dan Bhayangkara FC ini.

Ia pun turut mencurahkan perasaannya jelang melakoni partai terakhirnya sebagai arsitek tim PSIM Yogyakarta. Vlado mengungkapkan, alasan dibalik keputusannya mundur bukan lantaran gagal mempersembahkan kemenangan bagi PSIM di laga kandang perdana.

Melainkan, ia menilai permainan buruk anak asuhnya menjadi hal yang harus dipertanggung jawabkan.

"Kalau kamu bertanya bagaimana perasaanku, untuk saat ini saya merasa ok tapi hasil pertandingan terakhir lawan Persik Kediri benar-benar buruk, melihat bagaimana cara kita bermain," ungkap Vlado.

"Pertandingan lawan Persik menjadi laga paling memalukkan bagi saya, sepanjang perjalanan karir saya sebagai pemain hingga pelatih. Bahkan ketika saya masih menjadi pemain, saya tidak pernah memeragakan long pass, jadi waktu lawan Kediri saya pun tidak inginkan hal itu. Pemain pun tahu, saya minta mereka bermain bola pendek dari kaki ke kaki, dimainkan secara cepat. Tapi kenapa lawan Persik seperti itu? Saya juga tidak dapat jelaskan mengapa," sesalnya.

Selain itu, tidak adanya lagi kepercayaan dari mayoritas suporter padanya juga menjadi alasan ia memilih mundur. Ia merasa, situasi tak lagi nyaman baginya andai tetap bertahan sebagai arsitek tim Laskar Mataran.

"Saya mundur bukan karena kalah, tapi saya malu dengan permainan seperti itu. Tapi juga karena 90 persen suporter minta saya keluar dan mereka katakan goblok, anjing. So aku harus hormati suara mereka," ujar Vlado.

Halaman
12
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho
Editor: iwe
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved