Yogyakarta

BBPOM Yogyakarta Minta Masyarakat Waspada Beli Kosmetik

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) meminta masyarakat, khususnya perempuan untuk hati-hati dalam memilih kosmetik.

BBPOM Yogyakarta Minta Masyarakat Waspada Beli Kosmetik
vemale.com
Kosmetik 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) meminta masyarakat, khususnya perempuan untuk hati-hati dalam memilih kosmetik.

Kepala Bidang Pemeriksaan BBPOM Yogyakarta, Triyanti mengatakan kosmetik saat ini berkembang pesat dan semakin variatif.

Kosmetik yang saat ini digandrungi masyarakat, khsuusnya anak muda adalah kosmetik Korea.

5 Rekomendasi Mie Ayam di Jogja, dari yang Super Pedas sampai Buka Tengah Malam

Sebelum membeli sebuah kosmetik, ia meminta masyarakat untuk memperhatikan kemasannya.

Tidak hanya itu, perlu juga dilihat label, izin edar dan ternotifikasi BPOM.

"Sekarang ini kosmetik semakin variatif, yang lagi tren saat ini adalah make up Korea, krim wajah supaya putih. Nah ini yang masyarakat harus hati-hati sebelum membeli. Jangan karena pengen terlihat putih, justru merusak kulit," katanya pada Tribunjogja.com, Kamis (11/7/2019).

Ia menjelaskan, penting bagi masyarakat untuk memilih kosmetik yang sudah memiliki izin edar dan ternotifikasi BPOM.

Jika kosmetik sudah memiliki izin, maka kosmetik tersebut bisa digunakan dan meminimalisir dampak yang diterima masyarakat.

Kedapatan Jual Makanan Berformalin, Pedagang Minta BPOM DIY Usut Pemasoknya

Ada beberapa bahan berbahaya yang tidak boleh menjadi bahan kosmetik, seperti merkuri, hidrokinon, asam retinoat, merah K3, merah K10 dan lain-lain.

Pada 2018 lalu, pihaknya berhasil mengamankan 3412 kosmetik tanpa izin edar, 261 mengandung bahan berbahaya, dan 10 kosmetik kadaluarsa.

"Itu kan berbahaya, masyarakat harus lebih berhati-hati. Ada yang mengakibatkan iritasi pada kulit, kulit rasa terbakar, mengelupas, kulit jadi hitam, dan lain-lain," jelasnya.

Pihaknya pun terus berupaya untuk melakukan pengawasan pada kosmetik yang berbahaya bagi masyarakat.

Titik yang menajdi perhatiannya adalah stand kosmetik dan pasar tradisional.

"Yang online juga kami ambil sampel. kami pura-pura beli. Tetapi kadang barang tidak ada. Karena saat ini semua serba digital, kami juga harus ikut dalam perkembangan zaman," tambahnya. (*)

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved