Gunungkidul

Lestarikan Budaya Sandiwara Bahasa Jawa, Kemendikbud Gelar Pementasan Sandiwara di Gunungkidul

Ditambah lagi saat ini sudah banyak anak-anak yang sudah kesulitan dalam berbicara dengan menggunakan bahasa jawa yang baik dan benar.

Lestarikan Budaya Sandiwara Bahasa Jawa, Kemendikbud Gelar Pementasan Sandiwara di Gunungkidul
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto
Sandiwara Bahasa Jawa, digelar di Wulen Pari, Desa Jelok, Patuk, Gunungkidul, Senin (8/7/2019) malam. 

Laporan Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Sandiwara dengan menggunakan bahasa jawa saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh generasi millenial.

Melihat hal tersebut, Kementerian pendidikan dan Kebudayaan berupaya melestarikan kesenian tersebut dengan menggelar sandiwara bahasa jawa di berbagai tempat satu diantaranya di Kabupaten Gunungkidul.

Direktur Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Restu Gunawan menyampaikan dalam sebuah kesenian seperti sandiwara bahasa jawa banyak memiliki makna, yang saat ini sudah mulai bergeser.

Besok, Teatre Muara Yogyakarta Pentaskan Sandiwara Gogrog di Pendhapa Art Space

"Sandiwara dengan bahasa jawa memiliki berbagai makna seperti hubungan manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan manusia. Sebetulnya pergeseran tersebut sebenarnya bukan menjadi permasalahan tetapi kita harus menghidupkan ini agar generasi penerus mengapresiasi, khususnya sandiwara dengan bahasa jawa ini dapat dinikmati oleh anak cucu," Kata Restu.

Ditambah lagi saat ini sudah banyak anak-anak yang sudah kesulitan dalam berbicara dengan menggunakan bahasa jawa yang baik dan benar.

Jangankan baik, berbicara bahasa jawa pun generasi millenial sudah mulai enggan.

"Sandiwara ini mudah-mudahan mendorong anak-anak tampil kembali dengan bahasa lokal dalam konteks pelestarian budaya lokal. Semoga kegiatan ini dapat menularkan 'virus' kebaikan, terutama nilai-nilai budaya lokal," ucapnya.

Kemenkumham bersama Pemkab Gunungkidul Bentuk Timpora

Pementasan sandiwara bahasa jawa di Gunungkidul akan dipentaskan 3 hari, yaitu pada tanggal 6 Juli 2019, 8 Juli 2019, dan 10 Juli 2019.

"Selain Gunungkidul juga dipentaskan di daerah lain seperti Tulungagung dan Temanggung. Kegiatan seperti ini tidak menutup kemungkinan untuk digelar di daerah luar Jawa dengan mengangkat budaya lokal," katanya.

Sementara itu sutradara sandiwara bahasa Jawa, Lukas Priyo Arintoko, menjelaskan pihaknya kesulitan dalam mencari tempat untuk berlatih sandiwara, dirinya bersama pemain harus bermain sandiwara ditempat terbuka seperti di jalan.

"Selama ini kami bekerjasama dengan masyarakat membua panggunng seperti di depan pasar, kami juga memotong perempatan untuk dibuat panggung ternyata masyarakat menerima karena mereka tidak membayar jadi kami bisa bersatu dengan masyarakat," ungkapnya.

Dalam pementasan ini dirinya mengangkat 3 tema yaitu air, resan (tempat mengucap syukur) dan perempuan.

Harapanya dengan mnegangkat naskah dengan tiga tema tersebut masyarakat Gunungkidul bisa menghormati tradisi, spiritual, bagaimana mengelola air dan alam.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved