Yogyakarta

Pembudidaya Ikan Tawar Disarankan Gunakan 'Closed Water System' selama Kemarau

Melalui metode tersebut, intensitas penggantian air bisa ditekan, sehingga budidaya perikanan air tawar tidak terdampak kekeringan.

Pembudidaya Ikan Tawar Disarankan Gunakan 'Closed Water System' selama Kemarau
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kelautan dan Perikanan DIY mengembangkan metode closed water system.

Melalui metode tersebut, intensitas penggantian air bisa ditekan, sehingga budidaya perikanan air tawar tidak terdampak kekeringan.

Kepala DInas Kelautan dan Perikanan DIY, Bayu Mukti Sasongka mengatakan metode tersebut dilakukan dengan penyebaran probiotik ke kolam budidaya.

Selain untuk menjaga kualitas air, probiotik juga mampu mengolah sisa pakan dan kotoran ikan.

Pemprov DIY Akan Kaji Pantai Gesing Gunungkidul Sebagai Pelabuhan Perikanan

"Budidaya ikan tawar aman, kami mengembangkan metode closed water system. Dengan metode ini penggantian air bisa ditekan intensitasnya. Jadi dengan metode ini kotoran dan sisa pakan diolah, maka mengurangi kandungan amoniak dalam air. Dengan begitu pembudidaya tidak perlu sering mengganti air," katanya, Senin (8/7/2019).

Ia menjelaskan, metode tersebut telah digunakan rutin oleh pembudidaya, bahkan di luar musim kemarau. Metode tersebut diyakini dapat meningkatkan kualitas kesehatan ikan.

Selain menggunakan metode closed water system, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY juga menyarankan pembudidaya ikan memasang terpal.

Terpal tersebut berfungsi untuk mencegah meresapnya air ke dalam pori-pori tanah.

Pemasangan terpal sangat efektif bagi pembudidaya yang menerapkan kolam konstruksi tanah.

Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Serap Anggaran Paling Tinggi

Halaman
12
Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved