Pendidikan

Siswa Berkebutuhan Khusus Asal Kulon Progo Bersyukur Bisa Sekolah di SMPN 13 Yogyakarta

Mutiara Az Zahra, siswi berkebutuhan khusus asal Kulonprogo akhirnya bisa diterima bersekolah di SMPN 13 Yogyakarta.

Siswa Berkebutuhan Khusus Asal Kulon Progo Bersyukur Bisa Sekolah di SMPN 13 Yogyakarta
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
Mutiara Az Zahra, siswa disabilitas asal Kulonprogo saat bertemu pihak Disdik Kota Yogyakarta dan SMPN 13 Yogyakarta, Kamis (4/7/2019). 

Selain Mutiara, ia juga menjelaskan bahwa terdapat siswa lain dari SLB yang melanjutkan sekolah di SMPN 13 Yogyakarta.

Syarat Agar Siswa Penyandang Disabilitas asal Kulonprogo Bisa Bersekolah di Kota Yogyakarta

Berbeda dengan Mutiara yang merupakan tunarungu, siswa ini memiliki gangguan emosi.

Meski demikian dari segi nilai dan kemampuan, siswa yang bersangkutan memenuhi syarat dan lolos menjadi siswa SMPN 13 Yogyakarta.

"Saat ini kami juga ada siswa kelas 9 yang tunawicara, dia bisa mendengar sehingga masih bisa mengikuti pembelajaran. Total daya tampung di sekolah kami yang reguler 102 kursi ditambah KKO 34 kursi sehingga total 136 kursi. Lalu ditambah 1 anak (Mutiara) jadi totalnya 137 kursi," urainya.

Terpisah, Kepala Disdik Kota Yogyakarta Budi Santoso Asrori mengatakan bahwa secara nilai, Mutiara memiliki nilai di atas passing grade siswa dari luar daerah yang telah mendaftar dan dinyatakan diterima di SMPN 13 Yogyakarta.

"Nilainya (Mutiara) 240 sekian sementara passing grade di sana 233 sekian, sehingga masuk. Kemarin ada keterlambatan nilai, lalu ada surat dari Disdikpora DIY. Itu dasar kami untuk menerimanya sebagai bentuk afirmasi Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap penyandang disabilitas," bebernya.

Kesulitan Mencari Sekolah, Orangtua Siswa ABK Mengadu ke Komite Disabilitas DIY

Terkait akan kebutuhan GPK di SMPN 13 Yogyakarta, Budi menjelaskan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan Komite Disabilitas DIY untuk penyediaan fasilitas pembelajaran anak tersebut.

"Kalau jumlah GPK tiap sekolah tidak sama, tergantung kebutuhan. Kalau guru SMP bukan guru kelas, tapi guru mapel. Kami akan lakukan sosialisasi ke sekolah. Bekerjasama dengan Komite Disabilitas agar guru, siswa yang bersangkutan dan teman-temannya bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik," tambahnya.

Disinggung mengenai pelaksanaan PPDB secara umim pada tahun 2019, Budi menuturkan bahwa pihaknya cukup puas dengan proses yang ada.

Hal ini lantaran sudah tidak ada lagi warga yang mengeluhkan terkait jarak rumah dan sekolah mereka seperti tahun 2018 lalu.

"Kemudian dari segi nilai, saya lihat sekilas memang bagus tahun ini karena kami juga mengakomodasi akses," tutupnya.(*) 

Penulis: kur
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved