Breaking News:

Gunungkidul

ORI Anjurkan SD Karangtengah untuk Revisi Kembali Surat Edaran

Terjadinya polemik surat edaran membuat Ombudsman Republik Indonesia (ORI) perwakilan DIY terjun langsung ke SD Negeri Karangtengah III untuk mendapat

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto
ORI saat mediasi dengan kepala sekolah SD Karangtengah III, Senin (25/6/2019). 

Laporan Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Terjadinya polemik surat edaran membuat Ombudsman Republik Indonesia (ORI) perwakilan DIY terjun langsung ke SD Negeri Karangtengah III untuk mendapatkan keterangan langsung.

Jaka Susila, Koordinator Bidang Pemeriksaan Verifikasi laporan ORI DIY, menuturkan pihak sekolah sudah melakukan revisi terhadap surat edaran bagi siswa untuk menggunakan seragam muslim.

"Sudah direvisi tetapi dari revisi kali ini kami rasa masih sama saja yang awalnya menggunakan kata wajib sekarang setelah direvisi menggunakan kata dianjurkan, menurut kami secara terminologi itu sama," kata Jaka, Senin (25/6/2019).

Kepala SDN Karangtengah III Gunungkidul Buka Suara Terkait Kewajiban Siswa Mengenakan Busana Muslim

Ia mengimbau kepada sekolah untuk melakukan revisi kembali terhadap surat edaran tersebut, yaitu mengganti kata dianjurkan menjadi kata dapat.

"Siswa muslim dapat menggunakan seragam muslim, kalau menggunakan kata dapat berarti itu opsi atau pilihan siswa diberikan pilihan menggunakan seragam muslim atau seragam biasa," ucapnya.

Dalam pertemuannya dengan kepala sekolah SD Karangtengah pihaknya menanyakan dasar hukum pembuatan surat edaran tersebut apakah sudah sesuai atau belum.

"Saat kami tanya pihak sekolah ternyata menggunakan dasar hukum permendikbud nomor 45 tahun 2014 tentang pemakaian seragam, memang sekolah diberi kewenangan untuk mengatur pemakaian seragam, namun permendikbud tidak dijabarkan lagi pada tata tertib sekolah," katanya.

Arisan Ibu-ibu Politisi di Warung Bakso Berakhir Ricuh, Mangkuk pun Hampir Melayang

Selain itu pihaknya juga menanyakan latar belakang dari pembuatan surat edaran yang mewajibkan peserta didik menggunakan seragam muslim.

"Keterangan sekolah jadi murid kelas satu itu kesulitan saat memakai sarung saat ibadah sholat dhuhur, dan mereka bermain-main dengan sarung yang dibawa dari rumah sehingga keluar aturan itu untuk memudahkan anak saat akan ibadah sholat dan menertibkan anak," ujarnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved