Warga Moyudan Olah Sayuran Jadi Cemilan Kriuk

Warga Dusun Malangan Krandon, Sumberagung, Moyudan ini berinisiatif untuk mengolah sayuran menjadi penganan lebih menarik

Warga Moyudan Olah Sayuran Jadi Cemilan Kriuk
Tribun Jogja/ Alexander Ermando
Proses pembuatan keripik sayuran. Nurdiati menjamin produk yang ia buat tanpa MSG, pengawet dan pewarna buatan 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Alexander Ermando

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sayuran jadi salah satu sumber gizi paling baik bagi manusia.

Bahkan bisa dikatakan konsumsi banyak sayuran membuat hidup jadi lebih sehat.

Namun tidak semua orang suka mengonsumsi sayur.

Melihat peluang tersebut, Sri Nurdiati, warga Dusun Malangan Krandon, Sumberagung, Moyudan ini berinisiatif untuk mengolah sayuran menjadi penganan lebih menarik.

Berbagai jenis sayuran seperti wortel, pare, bayam, singkong, terung, kangkung, dan daun singkong ia olah menjadi keripik yang renyah.

Nurdiati menuturkan usaha yang ia kembangkan secara mandiri tersebut sejak 2015 silam.

Titik awalnya adalah gerakan Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat yang menanam berbagai jenis sayuran.

"Bahan-bahannya awalnya saya dapat dari situ. Namun awal 2019 ini ada tambahan dana untuk jadi modal menanam sayur untuk sendiri," jelas Nurdiati pada Minggu (23/06/2019).

Meskipun demikian, Nurdiati tidak lantas memulai usahanya begitu saja.

Ia sempat menjalani pelatihan UMKM yang dilakukan oleh Dinas Koperasi Sleman.

Ia terutama mempelajari bagaimana cara pemasaran serta pengemasan yang menarik perhatian.

Sedangkan untuk proses pembuatannya, Nurdiati dibantu oleh 3 tenaga kerja yang merupakan warga sekitar.

Prosesnya pun tergolong mudah, karena tekniknya hanya menggoreng seperti biasa.

Untuk menjamin makanan buatannya tetap berkualitas dan menyehatkan.

Minyak yang digunakan untuk menggoreng selalu baru.

Proses penggorengan pun dilakukan sebanyak 2 kali.

Begitu juga dengan minyak yang digunakan adalah jenis yang berkualitas.

"Saya juga tidak menggunakan bumbu penyedap seperti MSG, pengawet, bahkan pewarna. Semuanya alami," jelas ibu anak satu ini.

Tribunjogja.com sempat mencicipi keripik pare hasil buatan Nurdiati.

Sayuran yang identik dengan rasa pahit itu justru terasa gurih saat menyentuh lidah.

Tentunya rasa tersebut diikuti dengan sensasi kriuk yang renyah.

Nurdiati mengatakan ia menggunakan teknik tertentu agar pare tidak terasa pahit saat dimakan.

Hal serupa juga ia lakukan pada sayuran lainnya.

Ia mendistribusikan makanan buatannya tersebut hingga ke swalayan dan toko oleh-oleh.

Produknya juga sudah menembus Sumatera, hingga Sulawesi.

Nurdiati mengoptimalkan penjualan produk secara online, sehingga jangkauannya menjadi luas.

"Beberapa waktu lalu produk saya ini juga sempat dipromosikan di Batam," ungkapnya.

Nurdiati mengatakan usaha yang dijalaninya ini sangat berdampak positif pada ekonomi keluarganya.

Bahkan omzet per bulannya bisa mencapai Rp10 juta.

Tiap kemasannya ia jual dengan harga Rp10 ribu hingga Rp17 ribu.

Produksi per bulannya pun mencapai 300 kilogram.

"Satu hari saya mampu memproduksi 20 kg, itu setara 17 bungkus," kata Nurdiati.(*)

Penulis: Alexander Aprita
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved