Sleman

Setelah Lebaran, Angka Perceraian di Sleman Meningkat

Pengadilan Agama Kabupaten Sleman mencatat setelah Lebaran terjadi peningkatan angka perceraian.

Setelah Lebaran, Angka Perceraian di Sleman Meningkat
Tribun Jogja/ Fauziarakhman
Ilustrasi perceraian 

TRIBUNJOGJA.COM - Pengadilan Agama Kabupaten Sleman mencatat setelah Lebaran terjadi peningkatan angka perceraian.

Jika dalam satu hari terdapat 40-50 pasangan per hari yang sidang dengan berbagai kategori perkara seperti pengasuhan hak asuh anak, dispensasi kawin dan lain sebagainya, maka setidaknya ada 30 pasangan yang melaksanakan sidang cerai per harinya.

Muslih selaku Panitera Muda Permohonan, Pengadilan Agama Sleman, mengatakan meski pihaknya belum melakukan rekapitulasi data di Bulan Juni, namun ia memastikan adanya peningkatan jumlah perceraian setelah Lebaran berdasarkan pantauannya.

5 Inspirasi Gaya Lebaran Ala Yaseera yang Bakal Bikin Penampilanmu Tetap Kece

Data Pengadilan Agama Sleman pada April sebanyak 556 kasus.

Yakni 169 kasus merupakan cerai talak dan 387 merupakan cerai gugat dengan perkara cerai yang dikabulkan sebanyak 151 kasus. Sedangkan Mei ada 506 perkara cerai.

Dimana 158 merupakan cerai talak dan 348 cerai gugat.

Dari jumlah tersebut, yang dikabulkan sebanyak 141 perkara cerai yang dikabulkan.

"Saat Ramadan berkurang mungkin masih konsen puasa. Perceraian justru agak ramai setelah lebaran, kebanyakan mereka yangg abis merantau," jelasnya.

Sedangkan rata-rata yang mengajukan cerai adalah dari pihak perempuan.

"60% yang mengajukan adalah pihak perempuan. Laki-laki lebih sedikit, mungkin karena masih banyak pertimbangan," imbuhnya.

Tekan Angka Perceraian, Kemenag Kota Yogyakarta Jalankan Program Bimbingan Pranikah

Ditanya tentang latar belakang yang mengakibatkan banyaknya perceraian yang terjadi, Muslih mengatakan rata-rata dipicu oleh hal-hal kecil.

Ia mencotohkan adalah soal HP, misalnya suami atau istri memeriksa hp pasanganya dan menemukan hal-hal yang mencurigakan.

Asumsi dan kecurigaan yang belum tentu kebenarannya tersebut bisa memicu persilihan hingga akhirnya pengajuan cerai.

Permasalah lain seperti seperti kesalahpahaman dalam mendidik anak yang memicu terjadinya pertengkaran dan perselisihan.

Ada pula karena adanya pihak ketiga.

"Pihak ketiga bukan berarti harus WIL (wanita idaman lain) tapi bisa saja campur tangan orang tua," tuturnya.(*)

Penulis: nto
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved