Gunungkidul

Musim Kemarau, Angka DBD Justru Naik di Gunungkidul

Memasuki musim kemarau, angka Demam Berdarah Dengue (DBD) di Gunugnkidul meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Musim Kemarau, Angka DBD Justru Naik di Gunungkidul
medicalnewstoday.com
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Memasuki musim kemarau, angka Demam Berdarah Dengue (DBD) di Gunugnkidul meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Hingga akhir Mei tercatat 308 kasus sedangkan pada tahun lalu hanya 124 kasus.

Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka menjelaskan, pada akhir Mei 2019 jumlah kasus DBD di dua kecamatan meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu dengan periode yang sama tercatat sebanyak 124 kasus.

5 Inspirasi Gaya Lebaran Ala Yaseera yang Bakal Bikin Penampilanmu Tetap Kece

“Sampai dengan 31 Mei ada sebanyak 308 kasus DBD, satu diantaranya meninggal dunia. Puncak akumulasi kasus terjadi pada Februari 2019 ada di Kecamatan Karangmojo. Kemudian pada Maret, Kecamatan Ponjong, kemudian April dan Mei di Kecamatan Wonosari, tertinggi di Wonosari ada 70 orang yang terkena," ucapnya pada Tribunjogja.com.

Lanjutnya , kasus DBD tahun ini tidak biasa, karena justru pada musim kemarau angka kasus DBD mengalami peningkatan, ditambah lagi sebaran wilayah endemik juga bertambah.

"Di Kecamatan Wonosari yang awalnya endemis di kawasan tengah bergeser ke Wonosari bagian selatan dan utara, dan hal ini perlu diwaspadai, karena justru melonjak di musim kemarau," katanya.

Ia mengatakan catatan dinas kesehatan pada musim kemarau sebelumnya kasus DBD menurun dan berbeda dengan tahun ini.

Menurutnya hal tersebut terjadi karena pada musim kemarau kali ini masih ada genangan air walaupun dalam jumlah sedikit.

7 Langkah Mencegah Penyakit DBD Akibat Nyamuk Aedes aegypti

"Kuncinya untuk melakukan pencegahan adalah dengan menerapkan pola hidup bersih. Namun saat ini tidak separah 2016 lalu, saat masuk musim hujan mendatang harus diwaspadai," katanya.

Untuk mencegah nyamuk aedes aegypti masuk ke rumah dirinya menyarankan masyarakat menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender dan serai karena kedua tanaman tersebut tidak disukai nyamuk.

"Selain itu juga bisa memelihara ikan di bak penampungan air dengan memelihara ikan dapat menekan jumlah jentik nyamuk," katanya.

Di bagian lain, Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawati mengimbau kepada masyarakat agar menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas, menutup penampungan air dan memantau lingkungan.

“Kepedululian masyarakat yang meningkat dan saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan, harus ditingkatkan,” kata Dewi Irawati. (*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved