Pendidikan

ISI Yogyakarta Gelar Pameran Seni Media Rekam

Pameran bertajuk Kecerdasan Buatan dalam Seni di Era Revolusi Industri 4.0 ini digelar dalam momentum Dies Natalis ISI Yogyakarta yang ke-35, Lustrum

ISI Yogyakarta Gelar Pameran Seni Media Rekam
TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri
PAMERAN SENI MEDIA REKAM. Pengunjung melihat karya seni media rekam di Galeri Pandeng, komplek kampus ISI Yogyakarta, Senin (17/6/2019). Pameran yang digelar dalam rangka Dies Natalis ISI Yogyakarta ke-35 tersbeut mengambil tema Kecerdasan Buatan dalam Seni, di Era Revolusi Indistri 4.0 yang menyajikan karya fotografi, animasi dan penanyangan karya seni audio visual dan akan berlangsung hingga 23 Juni 2019. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggelar pameran seni media rekam.

Puluhan karya fotografi, fim dan televisi, dan animasi dipamerkan mulai 17-23 Juni.

Pameran bertajuk Kecerdasan Buatan dalam Seni di Era Revolusi Industri 4.0 ini digelar dalam momentum Dies Natalis ISI Yogyakarta yang ke-35, Lustrum ke-7.

Untuk karya-karya fotografi dipamerkan di Galeri Pandeng, karya animasi dipamerkan di aula lantai 3 Gedung Dekanat, dan penayangan film di Mini Studio dan Ruang Audio Visual FSMR ISI Yogyakarta.

Puluhan karya tersebut merupakan karya para dosen dan mahasiswa FSMR ISI.

Sekolah Multikultural Ajarkan Anak Pahami Keberagaman

Rektor ISI Yogyakarta, M. Agus Burhan mengatakan, dengan menggabungkan kecerdasan buatan dan kecerdasan alami manusia, potensi individu dapat menjadi lebih maksimal dan sangat memungkinkan untuk menggapai pencapaian yang luar biasa.

"Dalam dekade ini perkembangan digitalisasi seni merupakan arus besar mengglobal, yang membuka art worlds berbasis teknologi informasi digital, termasuk di dalamnya cyber art, information arts, dan multimedia arts," ujarnya.

Lanjutnya, fenomena perkembangan teknologi informasi dan digital mutakhir seperti adaptif robotic dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) bergerak pesat memang dapat mengubah berbagai ketrampilan, pengetahuan, dan sikap ilmiah, termasuk dalam berbagai aspek yang berpengaruh pada keberadaan pendidikan tinggi seni.

Fenomena perkembangan teknologi tersebut juga menjadi dasar argumen dalam proses kuratorial pemilihan karya-karya yang dipamerkan.

Pada karya-karya fotografi, Pitri Ermawati, kurator yang juga dosen Jurusan Fotografi, FSMR ISI Yogyakarta mengatakan bahwa teknologi merupakan unsur peradaban yang sangat mudah berubah seiring perubahan zaman.

"Hal ini antara lain dapat dilihat dari cara hidup manusia pemakainya. Cara hidup yang semula bersifat manual, secara signifikan telah banyak berubah menjadi masinal dan digital," katanya.

Melihat Proses Olahan Limbah Kertas Jadi Barang Seni

"Perlahan tapi pasti, mesin-mesin dan perangkat digital telah merambah, mendominasi, bahkan menguasai lini-lini kehidupan manusia. Hal tersebut tercermin pada karya-karya foto mahasiswa yang memvisualisasikan perilaku, manfaat, dan dampak negatif teknologi terhadap manusia," sambungnya.

Dalam pembukaan pameran ini juga digelar pemutaran film dan animasi karya mahasiswa.

Animasi bertajuk Jack The Chicken karya Ari Bakkas Pratama diputar pada pembukaan yang digelar di Ruang Audio Visual FSMR ISI Yogyakarta, Senin (17/6/2019) pagi.

Selain itu juga diputar dokumenter bertajuk As Long As karya sutradara Sesarini yang berkisah tentang seorang perempuan dengan bipolar.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: amg
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved