Yogyakarta

Hadapi Musim Kemarau, BMKG Imbau Masyarakat Mulai Hemat Air

BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat air, yang mana saat ini sudah memasuki musim kemarau.

Hadapi Musim Kemarau, BMKG Imbau Masyarakat Mulai Hemat Air
via tribun lampung
logo BMKG 

TRIBUNJOGJA.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat air, yang mana saat ini sudah memasuki musim kemarau.

Etik Setyaningrum, Kepala Kelompok Data dan Informasi, BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta mengungkapkan hampir seluruh wilayah di DIY (update hingga 10 Juni), secara berturut-turut selama 31-60 hari sudah tidak ada hujan.

Diperkirakan 3 bulan, dari Juni berkisar 0-20 mm dan Juli hingga Agustus 0-10 mm (kategori rendah). Nantinya secara periodik, kemarau akan menguat di setiap bulannya.

"Secara umum, iklim di wilayah DIY sampai dengan awal Juni sudah memasuki musim kemarau, terlihat dari hasil monitoring hari tanpa hujan (update sampai dengan 10 Juni)," ungkapnya.

Dampak Musim Kemarau, 400 Hektare Lahan Pertanian Padi di Gunungkidul Puso

Etik menjelaskan, puncak musim kemarau di DIY akan berlangsung pada bulan Agustus. Secara normal, kemarau akan berakhir pada bulan Oktober awal.

"Puncak kemarau diprediksi akan berlangsung di bulan Agustus 2019. Hasil pantauan BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta rata-rata suhu maksimum di siang hari mencapai 30-31 °C dan kelembaban minimum 62-63%," terangnya.

Untuk itu, Etik mengimbau agar masyarakat sedini mungkin mempersiapkan diri. Seperti halnya menghemat air untuk mengindari adanya potensi kekurangan air.

"Mulai menghemat air, potensi kurangnya ketersediaan air untuk pertanian dan waduk,"ungkapnya. (Siti Umaiyah)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved