Misteri Lokasi Tewasnya 9 Korban Kerusuhan 22 Mei, Kesulitan Polri Ungkap Arah Tembak Pelaku

Misteri lokasi tewasnya 9 korban kerusuhan 22 Mei saat aksi massa terkait hasil Pilpres 2019 itu menjadi hambatan bagi Polri

Editor: Yoseph Hary W
ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI via kompas.com
Personel kepolisian menembakkan gas air mata dan suara (flare) ketika terjadi kericuhan di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/209) malam. Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu 2019. 

Hal ini juga terkait dengan pernyataan polri yang menyebut bahwa aparat kepolisian tidak menggunakan peluru tajam saat kerusuhan.

"Ada 8 orang tertembak, 3 di antaranya adalah anak di bawah umur berusia 16, 17 dan 15 tahun. Polri tidak menjelaskan terkait proyektil yang ditemukan di tubuh korban dan TKP serta lokasi arah tembakan," tutur Rivanlee.

Rivanlee melontarkan, proses penegakan hukum ini juga terlihat timpang.

Polri sejatinya menunjukkan independensi dan akuntabilitas sehingga tidak memunculkan bias informasi.

"Aparat kepolisian juga harus terbuka terkait pelanggaran hukum dan HAM yang dilakukan oleh personilnya atau oleh siapapun yang ikut bertanggungjawab. Tidak boleh ada impunitas hukum," katanya.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri bersama Kepala Pusat Penerangan TNI menyampaikan konferensi pers soal perkembangan kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Dalam konferensi pers tersebut, polisi mengungkap dua aktor utama skenario rencana pembunuhan empat tokoh nasional dan satu pemimpin lembaga survei, yakni mantan Kaskostrad Mayjen TNI (Purn) KZ dan HM.

(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Ini Hambatan Polri Investigasi Penyebab Kematian Korban Kerusuhan 21-22 Mei dan Kontras: Polri Seharusnya Prioritaskan Usut Kematian Korban Kerusuhan 22 Mei

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved