Yogyakarta

Bikin Tidak Tenang, Wisnu Enggan Jual Obat Mercon

Upaya penertiban besar-besaran yang dilakukan oleh aparat berwajib mulai pedagang besar sampai kecil makin membatasi ruang peredaran petasan.

Bikin Tidak Tenang, Wisnu Enggan Jual Obat Mercon
istimewa
Wisnu, penjual kembang api di Jl Kusumanegara, Yogyakarta saat melayani pembeli. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menyalakan kembang api dan petasan seakan sudah menjadi kultur masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia saat Bulan Ramadan.

Mendekati Hari Raya Idul Fitri, aktivitas menyalakan petasan dan kembang api ini makin meninggi. Puncaknya, biasanya setelah pelaksanaan salat ied.

Setidaknya ini yang terlihat, ketika serpihan kertas bekas petasan masih terlihat di waktu seperti ini.

Paling banyak di jalan desa, atau lahan kosong dan persawahan.

Sudah jadi hal yang wajar ketika jalan desa atau lahan kosong menjadi berwarna putih karena tertutup serpihan kertas bekas ledakan petasan.

Polda DIY: Takbiran Jangan ada Petasan

Tapi harus disadari, dalam satu dekade terakhir ini peredaran petasan menurun.

Salah satu sebabnya, terbitnya peraturan pemerintah yang mengatur larangan penjualan petasan.

Upaya penertiban besar-besaran yang dilakukan oleh aparat berwajib mulai pedagang besar sampai kecil makin membatasi ruang peredaran petasan.

“Ya mungkin masih ada yang jual kalau petasan. Termasuk obat mercon untuk bahan membuat petasan. Tapi saya tidak tahu penjual mana saja yang masih jual itu (obat mercon),” kata Wisnu, pemilik toko kembang api di Jl Kusumanegara, Yogyakarta.

Wisnu, diketahui sudah sejak 1975 menjual kembang api.

Halaman
123
Penulis: sus
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved