Nasional

Tak Perlu Ragukan Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD: Tak Mungkin Didekte, Tak Bisa Diintervensi

Tak Perlu Ragukan Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD: Tak Mungkin Didekte, Tak Bisa Diintervensi

Tak Perlu Ragukan Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD: Tak Mungkin Didekte, Tak Bisa Diintervensi
Tribun Jogja/Wahyu Setiawan Nugroho
Mahfud MD saat mengikuti dialog kebangsaan dan seruan perdamaian bersama tokoh dan cendekiawan kampus DIY di Universitas Alma Ata Yogyakarta, Rabu (26/5/2019). 

Mahfud MD yakin Mahkamah Konstitusi tidak mungkin diintervensi dan didekte terkait sengketa Pilpres dan Pileg.

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Menampik kekhawatiran sejumlah pihak terkait independensi Mahkamah Konstitusi (MK), mantan Ketua MK Mahfud MD memastikan lembaga tinggi negara itu akan bisa menjaga kredibilitas dan dipastikan tak bisa didekte oleh siapapun termasuk pemerintah.

Mahfud membeberkan, kondisi politik saat ini sama seperti dirinya kala menjabat sebagai Ketua MK pada tahun 2009 silam.

"Memang ada kekhawatiran MK didekte, tapi 'ndak lah', saya pernah menjadi hakim Mahkamah Konstitusi, pernah menghadapi situasi seperti ini, ketika pak SBY menang lalu digugat Bu Mega yang berpasangan dengan Prabowo, digugat juga oleh Jusuf Kalla yang berpasangan dengan Wiranto, situasainya sama, MK diteror lah, MK didekte oleh pemerintah lah, itu pak Mahfud Ketua MK sudah dipanggil ke Cikeas oleh pak SBY tengah malam katanya, beritanya begitu di luar," bebernya di sela Dialog Kebangsaan bersama cendekiawan dan tokoh kampus DIY di Universitas Alma Ata, Rabu (29/5/2019) sore.

Mahfud MD Singgung Tokoh Galak, Mendadak Takut Usai Ditangkap Polisi

Bahkan, lanjut Mahfud, MK juga didemo berturut-turut selama hampir satu minggu penuh sebelum putusan. Mahfud menyebut kendati dengan cara apapun, tak mungkin untuk mengintervensi MK. Banyak mekanisme yang berlaku di MK.

"Tak mungkin MK diintervensi, karena di situ mekanisme sangat ketat, sidangnya pun terbuka, hakim sembilan buka semua, ndak bisa presiden manggil ketua MK dan akan menentukan keputusan, itu nggak bisa," sebutnya.

Mahfud mengatakan justru kala itu dia berujar bahwa Presiden SBY tak berhak memanggil ketua MK namun sebaliknya, ketua MK justru boleh memanggil presiden SBY.

"Nggak mungkin saya dipanggil tengah malam, saya ngantuk, dia (SBY) juga ngantuk, tengah malam manggil-manggil gitu," kata Mahfud.

Mahfud MD Sebut Umat Islam Punya Andil Sepakati Konsep Kebangsaan Indonesia, Wajib Dijaga

Tapi situasi panasnya tensi politik kala itu, beber Mahfud, langsung mereda usai MK memberikan keputusan pada 12 Agustus 2009. Tak ada pasangan capres cawapres yang ribut pasca putusan.

"Panas situasinya, saling ancam. Tapi saudara tahu ndak, pada 12 Agustus 2009, saya mengucapkan putusan jam 02.00, diketuk jam 04.00. Jam 04.30 Bu Mega sudah menyatakan 'karena MK sudah memutuskan maka kami menerima putusan itu'. Bersamaan itu juga, JK bersama Wiranto mengumumkan 'putusan MK sudah turun persoalan politik, sudah selesai, kami menerima keputusan itu'. Damai. Setelah itu lancar pemerintahan," tambahnya.

Dari pengalaman itu, Mahfud berharap agar seluruh pihak nantinya dapat menerima apapun keputusan MK.

"Mudah-mudahan yang ini (pilpres 2019) pada tanggal 28, terjadi sikap yang sama. Misal Pak Jokowi kalah ya mengucapkan selamat kepada Pak Prabowo sebaliknya misal Pak Prabowo kalah ya mengucapkan selamat kepada pak Jokowi, dan pemerintahan harus berjalan," bebernya.

UPDATE Kivlan Zen Tersangka, Mantan Sopirnya Ternyata Miliki Senpi Ilegal

"Itulah cara hidup beradab. Cara hidup demokrasi yang berkeadaban," tandas Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasil (BPIB) ini.

Tak ketinggalan, Mahfud juga mengajak masyarakat dan kontestan politik untuk menyerahkan segalanya pada MK yang saat ini tengah diproses. Hormati proses dan putusan yang dihasilkan.

"Percayakan pada MK, bangun demokrasi yang lebih beradab, jangan ikut terperangkap pada hoax, kabar bohong dan berita-berita tidak jelas yang merusak keberbangsaan kita," tutup Mahfud MD. (Tribunjogja I Wahyu Setiawan Nugroho)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved