Merawat dan Memupuk Jati Diri Bangsa Lewat Kesadaran Persamaan Sejarah, Bahasa dan Geografis

Merawat dan Memupuk Jati Diri Bangsa Lewat Kesadaran Persamaan Sejarah, Bahasa dan Geografis

Merawat dan Memupuk Jati Diri Bangsa Lewat Kesadaran Persamaan Sejarah, Bahasa dan Geografis
Istimewa
Diskusi dan berbuka puasa DPP LDII bersama wartawan yang bertajuk "Merawat Kebangsaan, Menggali Jati Diri Bangsa (Refleksi Sejarah, Bangsa, dan Letak Geografis)" di Jakarta, Senin (27/5/2019) lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM - Memasuki abad 21 teknologi menjadi penggerak perubahan segala aspek kehidupan umat manusia, hal ini mendorong setiap bangsa untuk menetapkan agenda merawat dan melestarikan jati diri bangsa, termasuk Bangsa Indonesia.

"Selain terus melaksanakan agenda demokrasi 5 tahunan, maka Bangsa Indonesia memiliki kewajiban untuk menjaga identitasnya sebagai bangsa agar dalam pergaulan antarbangsa yang intens, bangsa ini tetap terjaga jati dirinya," ujar Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo dikutip TribunJogja.com dari pesan resminya, Rabu (29/5/2019).

Pendapat itu mengemuka dalam diskusi dan berbuka puasa bersama wartawan yang bertajuk "Merawat Kebangsaan, Menggali Jati Diri Bangsa (Refleksi Sejarah, Bangsa, dan Letak Geografis)" di Jakarta, Senin (27/5/2019) lalu.

Acara ini menghadirkan Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo, Chriswanto Santoso, dan Guru Besar Sejarah Undip Prof Dr. Singgih Tri Sulistiyono selaku pakar sejarah maritim.

Kebangsaan menurut Prasetyo merujuk kepada pengertian bahwa kebangsaan adalah kesadaran diri sebagai warga dari suatu negara atau jati diri sebuah bangsa.

5 Media Sosial Ini Sempat Berjaya di Eranya, Kini Semuanya Bangkrut Ditelan Kemajuan Zaman

Menurutnya, segala masalah bangsa ini bisa diselesaikan dengan mudah bila semua pihak memiliki kesadaran sebagai bangsa dan memelihara kenangan kolektif sejarah bangsanya.

"Jati diri atau identitas bangsa ini bisa dibangun dengan mengingat kembali sejarah, bahasa, dan geografis. Itu sama halnya meneropong Indonesia dari sisi masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia," imbuh Prasetyo.

Sementara itu, Singgih Tri Sulistiyono berpendapat bahwa sejarah adalah bagian terpenting pembentukan sebuah bangsa dan negara. Kesadaran sebagai sebuah bangsa atau kesadaran tentang keindonesiaan tidak akan dapat dibangun tanpa mempelajari sejarah.

"Bangsa Indonesia lahir dari proses sejarah sebagai narasi pengalaman kebersamaan (collective memory)," ujar Singgih di kesempatan yang sama.

Menurutnya, memori atau pengalaman bersama ini akan mengikat perasaan bersama, sebab substansi keindonesiaan adalah hanya sebuah perasaan kebersamaan sebagai sebuah komunitas bangsa. Jika bangsa ini melupakan sejarah, maka perasaan itu semakin lama semakin luntur.

Halaman
1234
Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved