Bisnis

Grand Keisha by Horison Gelar Apresiasi Batik

Apresiasi Batik juga diselingi dengan fashion show Batik Tulis rancangan Sugeng Waskito dengan Gee Batik nya.

Grand Keisha by Horison Gelar Apresiasi Batik
Istimewa
Grand Keisha by Horison, mengadakan acara Mengapresiasi Batik di Ottoman Sky Lounge Rooftop Floor yang menghadirkan GKR Mangkubumi. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Grand Keisha by Horison, mengaadakan acara mengapresiasi Batik bertempat di Ottoman Sky Lounge Rooftop Floor yang menghadirkan GKR Mangkubumi, Idha Jacinta seorang Batik Designer dari Solo, dan Endang selaku Ketua asosiasi 500 pengrajin batik di Sleman sebagai pembicara.

Apresiasi Batik juga diselingi dengan fashion show Batik Tulis rancangan Sugeng Waskito dengan Gee Batik nya.

"Mengapresiasi Batik ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kita terhadap Batik, dan acara ini terselenggara berkat kerjasama antara panitia Temu Kangen GKR Gusti Mangkubumi Ibu Yuliana, Grand Keisha by Horison, serta Gee Batik," General Manager Grand Keisha by Horison Hotel Atik Damarjati.

Kampung Batik Giriloyo Raup Pendapatan Rp 1,2 Miliar Sepanjang Tahun 2018

GKR Mangkubumi menjelaskan Batik bukan hanya sekedar selembar kain, namun batik adalah sebuah proses.

Prosesnya dimulai pembuatan motif, pemberian malam, pemberian warna, pencucian, nglorot, dan pencucian serta penjemuran.

"Oleh karena itu yang disebut benar – benar kain Batik adalah yang dibuat dengan proses menggunakan malam," kata GKR Mangkubumi pada acara “Mengapresiasi Batik” pada Buka Bersama Temu kangen GKR Mangkubumi bersama rekan rekannya semasa di SMA BOSA dan SMP Stece Dagen.

Sejak tahun 2014 Badan Kerajinan Dunia atau World Craft Council (WCC) telah menobatkan Yogyakarta sebagai The World’s Batik City atau Kota Batik Dunia, oleh karena itu kita sebagai warga kota Yogyakarta semestinya lebih mencintai, memahami dan mengembangkan Batik untuk lebih di kenal.

Melihat Lebih Dekat Kampung Batik Giriloyo di Bantul

Sepandangan dengan GKR Mangkubumi Idha Jacinta, batik designer dari Solo juga mengatakan di era modern sekarang ini dimana segala sesuatu berkembang lewat digital, batik di harapkan menemukan tempat dan ruang untuk bisa berkontribusi lewat setiap pesan yang tersurat dan tersirat dari filosofi motif – motif batik yang ada sehingga batik selain bisa dikagumi dan dilihat sebagai kain juga bisa dijadikan sebagai pembawa pesan”

Dalam kesempatan tersebut GKR Mangkubumi juga mengajak para perajin batik, pendesain batik tidak hanya sekedar mendesain batik dengan indahnya warna, tapi juga bagaimana desain batik tersebut bisa bercerita.

Dengan demikian seseorang yang mengenakan desain batik tahu maksud yang akan disampaikannya.

Endang, selaku Ketua Asosiasi Batik Mukti Manunggal di Sleman yang mengetuai 30 kelompok pembatik, atau sekitar 500 perajin batik yang berasal dari berbagai daerah di Sleman mengatakan para pengrajin batik dari kelompoknya ini berasal dari berbagai profesi diantaranya peternak, pedagang keliling dan petani, dan aktivitas membatik biasanya dilakukan setelah mencari rumput untuk ternak” dengan tambahan aktivitas membatik ini taraf hidup mereka menjadi lebih meningkat.

"Kami terimakasihnya atas motivasi dan pencerahan maupun kesempatan promosi yang diberikan oleh  GKR Mangkubumi dan berterimakasih juga kepada Grand Keisha Hotel by Horison yang telah memberikan space free di lobby hotel selama 2 tahun ini sehingga membuka kesempatan bagi karya kelompoknya untuk lebih dikenal oleh tamu tamu dari Indonesia maupun di negara manca," ujar Endang.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: vim
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved