Kota Yogyakarta

Pola Asuh Pengaruhi Pembangunan Identitas Diri Remaja

Pola asuh orangtua kepada anaknya terbukti memiliki peran yang dominan dalam proses pembangunan identitas diri remaja di Yogyakarta.

Pola Asuh Pengaruhi Pembangunan Identitas Diri Remaja
istimewa
Enung Hasanah, mahasiswa S-3 UNY saat memaparkan disertasinya mengenai Pengalaman Remaja Tentang Pola Asuh Keluarga di Yogyakarta, Kamis (23/5/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pola asuh orangtua kepada anaknya terbukti memiliki peran yang dominan dalam proses pembangunan identitas diri remaja di Yogyakarta.

Enung Hasanah, mahasiswa S-3 UNY dalam penelitian disertasinya mengenai Pengalaman Remaja Tentang Pola Asuh Keluarga di Yogyakarta, mengungkapkan jika orangtua otoriter, cenderung menghasilkan remaja dengan identitas foreclosure.

Sedangkan orangtua yang memiliki pola asuh cenderung permisif dan inkonsisten, cenderung menghasilkan difusi identitas.

Tragis, Remaja 16 Tahun Tewas Setelah jadi Korban Main Hakim Sendiri Warga Labuhanbatu

"Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua, bahwa para remaja saat ini tidak suka terlalu dikekang atau terlalu diperhatikan. Namun, mereka juga tidak suka dibiarkan begitu saja," ungkapnya pada Kamis (23/5/2019)

Menurutnya, kontrol perilaku orangtua terhadap remaja yang cenderung kasar, dapat menimbulkan pemberontakan dalam jiwa remaja.

Oleh karenanya, orangtua ini perlu memahami dan mau melakukan pendekatan dengan cara yang lebih cocok melalui sebuah dialog, yang sesuai dengan perkembangannya.

Ngeri, Bikin Polling di Instagram Harus Mati atau Tidak Lalu Remaja Ini Bunuh Diri

"Yogyakarta bukanlah kota yang sangat aman untuk memberikan fleksibilitas dan kebebasan remaja terlalu luas pada masa pembangunan identitas remaja ini. Namun, sebaliknya, ketika ketika orangtua melakukan kontrol dengan cara kasar, maka bisa menimbulkan pemberontakan dalam diri anak," ungkapnya

Oleh karenanya, Enung mengatakan, orangtua yang ingin menghasilkan remaja yang bisa tumbuh dan mencapai status identitas moratorium dan achievement, harus mampu menggabungkan prinsip otoriter dan otoritatif secara kontekstual.

Dia menerangkan jika dalam masyarakat dewasa ini, sosok orangtua perlu dikembalikan pada fungsinya yang utama, yakni sebagai perancah dan pengontrol nilai.

Fungsi tersebut hanya dapat dilakukan oleh orangtua yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk mendidik sesuai dengan perkembangan zaman.

"Orangtua perlu menjalin hubungan yang baik dengan pada remaja agar bisa saling memahami satu sama lain. Orangtua dapat memperhitungkan pendapat remaja tentang nilai-nilai yang terbaik untuk bisa memenuhi kebutuhan perkembangan identitas remaja secara individu melalui dialog," ungkapnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved