Yogyakarta

Panen Bergilir Diharap Bisa Tekan Harga Bawang Merah di Yogyakarta

Panen bawang merah yang dilakukan secara bergilir di sejumlah daerah di Yogyakarta diharapkan bisa menekan harga bawang merah di pasaran.

Panen Bergilir Diharap Bisa Tekan Harga Bawang Merah di Yogyakarta
groworganic.com
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Panen bawang merah yang dilakukan secara bergilir di sejumlah daerah di Yogyakarta diharapkan bisa menekan harga bawang merah di pasaran agar tidak melambung.

Sasongko, Kepala Dinas Pertanian DIY menjelaskan, ketika panen ini dilakukan secara bergilir, otomatis tidak ada kelangkaan barang di pasar.

Sehingga hal tersebut juga merupakan strategi menekan harga bawang agar tidak melambung.

Dua Rekomendasi Brand Fashion Lokal Kekinian

"Bawang merah saat ini baru panen tapi belum besar betul. Saat ini masih ditanami lagi. Panen beberapa kali kita harapkan tidak terjadi gejolak harga yang tinggi dan hal tersebut bisa mencukupi kebutuhan. Tidak sekali panen tapi habis," terangnya pada Tribunjogja.com.

Sasongko menjelaskan, selain ada petani yang tengah melakukan panen, di saat yang bersamaan ada pula petani yang sedang memulai masa tanam.

Nantinya pada Juni, Agustus serta September para petani secara bergilir akan kembali melakukan panen bawang merah.

"Panen untuk kebutuhan yang lebih besar sudah kita siapkan, pada bulan Juni, Agustus dan September juga panen lagi. Untuk jumlah panenan saat ini masih kita hitung. Jadi ada tanam ada panen, begitu terus. Untuk yang panen saat ini di Kretek yang di pantai. Nanti juga ada di Dlingo yang di bukit malah bawang merah yang organik," katanya.

Pantau Stok Bawang di Kulon Progo, Petugas TPID DIY Kecele, Distributor Sudah Pulang

Sasongko menjelaskan, untuk kebutuhan bawang merah saat Ramadan maupun Lebaran masih mencukupi. Sedangkan untuk di pasaran sendiri ketika ada yang berbeda harga, hal tersebut dikarenakan adanya kualitas yang memang berbeda.

"Kenaikan itu hanya penyesuaian dengan kualitas dan kondisi barangnya. Karena disini dibersihkan, lebih kering. Kalau ada yang busuk disingkirkan. Mulai dari petani, kesini kan dari basah jadi kering, bobotnya berkurang. Sehingga pedagang tidak mau rugi, jadi harga disesuaikan. Kalaupun ada kenaikan bukan ada sesuatu tapi karena kualitasnya," katanya.

Selain bawang merah, saat ini para petani juga tengah memanen cabai merah keriting. Sasongko juga menerangkan jika stok cabai merah sendiri sampai dengan saat ini masih aman.

"Kalau cabai keriting di Sleman ada. Setiap sore di Sleman ada pasar lelang, jadi jam 6 dari petani mengumpulkan, kemudian di lelang di Pakem. Jam 7 di buka lelang. Untuk stok aman. Saat ini di daerah Kulonprogo juga sedang panen. Selian cabai, kita juga baru saja panen raya padi. Penghasil terbesar di Gunungkidul dan Sleman," ungkapnya. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved