Gunungkidul

BPBD Gunungkidul Siapkan Koordinasi dengan Kecamatan untuk Tanggulangi Kekeringan

BPBD Kabupaten Gunungkidul mulai antisipasi terjadinya kekeringan di beberapa daerah dengan berkoordinasi dengan pihak kecamatan

BPBD Gunungkidul Siapkan Koordinasi dengan Kecamatan untuk Tanggulangi Kekeringan
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Musim penghujan mulai beralih ke musim kemarau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mulai mengantisipasi terjadinya kekeringan di beberapa daerah dengan berkoordinasi dengan pihak kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan koordinasi tersebut dilakukan untuk memetakan area-area mana saja yang kemungkinan terjadi kekeringan.

Selain itu pihaknya juga telah menganggarkan Rp 500 juta untuk dropping air.

Musim Kemarau dan Kekeringan di Kulon Progo Diprediksi Tak Separah Tahun Lalu

"Sekarang sudah memasuki masa pancaroba. Ini terlihat dari intensitas hujan yang mulai menurun sehingga menjadi tanda akan memasuki musim kemarau. Nantinya dropping dilakukan jika sudah ada permintaan dari pihak desa," ucapnya, Selasa (14/5/2019).

Ia menambahkan pihaknya telah mendapatkan laporan awal yaitu berupa lima kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan yaitu Kecamatan Tepus, Girisubo, Rongkop, Panggang dan Purwosari.

Untuk kepastian berapa jumlah wilayah yang mengalami kekeringan, BPBD pada Jumat mendatang akan melakukan koordinasi dengan kecamatan, PDAM.

“Koordinasi untuk mengetahui pasti daerah yang mengalami kekeringan. Yang jelas, untuk sekarang masih dalam proses pemetaan, pelaksanaan penyaluran bantuan air bersih kami menyiapkan tujuh armada truk pengangkut air. Meski demikian, pada saat penyaluran tidak semua armada dijalankan karena ada satu truk yang disiagakan sebagai pengganti," paparnya.

Jaga Stok Selama Musim Kemarau, Pemkab Sleman Miliki Cadangan 100 Ribu Ton Gabah Kering Siap Giling

Sekretaris Desa Giriharjo, Muharyanto mengatakan, sulitnya air bersih dirasakan oleh sebagian warga mereka yang tinggal di dataran tinggi.

Hal tersebut diakuinya terjadi sejak awal puasa tahun ini.

"Ada 150 kk disana (Padukuhan Pangang I) yang mulai kesulitan air bersih. Kalau untuk wilayah lain di desa kami masih aman,sulitnya air bersih di padukuhan tersebut dikarenakan sudah tidak adanya hujan yang turun. Air dari PDAM juga tidak mampu mengalir karena lokasinya berada pada ketinggian," sambungnya.

Dirinya menjelaskan padukuhan Panggang sebenarnya dekat dengan bak penampungan air yang cukup besar namun, air tidak dapat mengalir karena lokasi yang terlalu tinggi.

BMKG Yogyakarta Sebut Akhir Mei Wilayah Yogyakarta Masuk Musim Kemarau

Ia menambahkan, saat ini pihaknya mencoba melakukan komunikasi dengan pihak kecamatan untuk menuntaskan masalah sulitnya air bersih ini.

Sebab, kebutuhan air bersih pada saat bulan puasa ini sangatlah mendesak.

"Kemarin kita mengajukan untuk program air bersih di kecamatan dan kelompok serta person. Siapa tau mereka bisa membantu masalah air bersih ini, saat ini masyarakat secara swadaya senilai Rp 130 ribu per tangki. Nanti kalau ada bantuan akan kita taruh di bak balai padukuhan untuk bisa dimanfaatkan masyarakat," kata dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved