Ramadan

Lulusan Pondok Pesantren Tidak Harus Jadi Kiai

Santri dan santriwati dituntut untuk mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin) sedalam dan setuntas mungkin.

Lulusan Pondok Pesantren Tidak Harus Jadi Kiai
TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu
Aktivitas di Ponpes Al Hidayah Desa Karangwuluh, Temon. 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Seorang pemimpin dengan bakat manajerial bagus tidaklah cukup.

Akhlak yang bagus dengan landasan agama yang kuat juga sangat diperlukan.

Ini pula yang ditekankan dalam sistem pendidikan di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Desa Karangwuluh, Kecamatan Temon kepada setiap anak didiknya.

Santri dan santriwati dituntut untuk mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin) sedalam dan setuntas mungkin.

Namun, mereka tidak lantas dibatasi sekadar khatam ilmu agama melainkan juga diberi kebebasan untuk mengasah keterampilan praktisnya.

Semisal mengembangkan potensi kewirausahaannya sehingga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar di manapun mereka berada.

Pesantren Assalafiyyah Terapkan Aturan Ketat untuk Para Santri

"Tafaqquh fiddin itu titik penting yang kami ajarkan di sini. Namun, berkhidmat pada apapun yang mereka bisa itu juga penting. Kami selalu menekankan pada anak-anak agar bisa bermanfaat bagi orang lain lewat apapun yang kita punya. Lulusan pondok tidak harus jadi kyai," kata Pengasuh Ponpes Al-Hidayah, Rofiuddin Muhammad Lutfi Hakim.

Rofiuddin mengatakan, pihaknya menyadari bahwa setiap santri memiliki kecenderungan potensi yang berbeda satu sama lain.

Ada yang memang tidak terlalu menonjol dalam pelajaran namun tangannya begitu terampil untuk hal-hal tertentu.

Maka itu, pengasuh ponpes dalam hal ini membebaskan anak asuhnya untuk menimba ilmu akademis melalui jenjang sekolah dan kuliah ataupun belajar keterampilan.

Baznas Yogya Gelar Pesantren Ramadan Dhuafa

Halaman
123
Penulis: ing
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved