Ramadan

Pesantren Assalafiyyah Terapkan Aturan Ketat untuk Para Santri

Seorang santri diharapkan mampu bersikap lebih terbuka, tidak kaku dalam berdakwah di tengah masyarakat, dan mampu menjawab tantangan-tantangan perkem

Pesantren Assalafiyyah Terapkan Aturan Ketat untuk Para Santri
istimewa
Pondok Pesantren Assalafiyyah Yogyakarta yang berada di Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman. 

Kini, dengan program pengembangan pendidikan formal di bawah kepemimpinan K. Irwan Masduqi ini Pesantren Assalafiyyah 2 mengalami fase perkembangan cukup pesat.

Apalagi dengan dukungan keluarga ndalem, yakni KH. Chasan Abdullah, KH. Noor Hamid dan KH. Zar’anuddin. Tercatat, ada sekitar 500 santri di semua jenjang.

Malinda, Staff Pendidikan Pesantren Assalafiyah 2 menjelaskan, santri yang belajar di berbagai jenjang pendidikan formal pesantren wajib taat dengan aturan yang notabene jauh lebih ketat dibanding Assalafiyyah 1 yang banyak diisi santri bekerja dan kuliah.

Sanksi tegas juga diterapkan selama proses pembelajaran.

“Santri hanya boleh menggunakan handphone saat pukul 22.00 sampai 23.00. Selebihnya tidak boleh. Jadi handphone harus dikumpulkan. Tapi jika sewaktu-waktu santri ingin berkomunikasi dengan keluarga, disediakan handphone khusus dari pesantren. Santri juga tidak boleh pergi keluar dari area pondok,” kata Malinda.

Jika santri melanggar, menurut Malinda, akan mendapat sanksi yang cukup berat.

Ketahuan mengoperasikan handphone di luar jam misalnya, akan disita tanpa dikembalikan kepada santri.

Atau ketika santri tidak ikut salat berjamaah, akan diberi sanksi mulai menyapu halaman, membaca alquran sampai membersihkan lingkungan.

Kementerian Perhubungan Serahkan Bantuan Bus Sekolah ke Pondok Pesantren di Magelang

Sebagai media pendidikan agama islam berbasis salafiyah, Pesantren Assalafiyyah pun konsisten menerapkan setiap ajaran yang terkandung dalam syariat Islam secara murni tanpa ada tambahan dan pengurangan sedikitpun.

Syariat ini berdasar generasi Muhammad dan para sahabat dan para murid setelahnya.

“Beberapa materi yang diberikan kepada santri, meliputi pengajian (membaca kitab kuning dan menyalin). Lalu mengaji sesuai tingkatan dan nanti diujikan. Di pesantren juga ada beberapa materi dan kegiatan ekstra seperti qiroah, kesenian angklung, hadroh, silat, drumband dan pelatihan bahasa Arab-Inggris,” kata Malinda. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Susilo Wahid Nugroho
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved