Pemilu 2019

Fisipol UGM Bentuk Kelompok Kerja Kajian Mortalitas Petugas Pemilu 2019

Nantinya riset tersebut akan fokus mengidentifikasi faktor risiko mana yang paling menyebabkan kesakitan dan kematian petugas pemilu dengan memperhati

Fisipol UGM Bentuk Kelompok Kerja Kajian Mortalitas Petugas Pemilu 2019
Tribun Jogja/ Suluh Pamungkas
Ilustrasi Pemilu 2019 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Paska Pemilihan Umum yang berlangsung pada 17 April 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menerangkan ada 440 petugas pemilu yang meninggal dunia dan 3.788 petugas yang sakit.

Untuk membahas hal tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) akan selenggarakan riset lintas disiplin ilmu untuk membahas hal tersebut.

Wakil Dekan FISIPOL UGM, Wawan Mas’udi, mengatakan jika pihaknya bersama dengan sejumlah perwakilan dari FISIPOL, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK), dan Fakultas Psikologi UGM bersepakat membentuk Kelompok Kerja Kajian Mortalitas Petugas Pemilu 2019.

Data KPU Sleman : 4 Anggota KPPS Meninggal dan 11 Petugas KPPS Sakit

“Kami mengundang rekan-rekan sejawat dari FKKMK dan Psikologi karena kami menganggap riset ini memerlukan keahlian lintas disiplin. Dengan begitu, riset ini dapat memperkuat rekomendasi perbaikan sistem pemilu di lingkup nasional secara komprehensif, dan mencegah terulangnya kejadian yang sama," terangnya.

Wawan menjelaskan jika nantinya riset tersebut akan fokus mengidentifikasi faktor risiko mana yang paling menyebabkan kesakitan dan kematian petugas pemilu dengan memperhatikan sebaran kematian dan situasi sosial-politik lokal.

Selanjutnya, pada tahap review, riset tersebut nantinya juga akan melakukan pengkajian mengenai sistem penugasan dan pelaksanaan tugas para anggota kesehatan, termasuk pengetatan atas syarat keterangan sehat yang selama ini seolah hanya jadi syarat administratif.

YouSure Fisipol UGM Kembali Adakan Soprema

“Serangkaian kejadian sakit dan kematian petugas pemilu 2019 itu perlu kita lihat sebagai sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) yang memerlukan perhatian khusus. Ke depannya, kami berharap dapat melakukan riset yang mendalam, lintas disiplin, melibatkan universitas-universitas di seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah yang menunjukkan angka kejadian cukup tinggi,” katanya

Abdul Gaffar Karim, Dosen FISIPOL yang tergabung dalam tim riset menjelaskan jika nantinya kasus-kasus yang terjadi akan dipetakan dari segi geografis maupun sosial-politik, yang mana pemetaan tersebut penting untuk mengetahui faktor risiko yang paling menonjol di sana.

"Sementara itu, audit medik akan dilakukan terhadap kasus-kasus kesakitan dan kematian para petugas pemilu 2019," terangnya

Nantinya, hasil dari riset tersebut akan dikomunikasikan dengan pemangku kepentingan untuk kemungkinannya bisa diujicoba dalam Pilkada 2020.

Harapannya hasil uji coba tersebut dapat digunakan untuk memperkuat rekomendasi perbaikan sistem pemilu di lingkup nasional. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved