Ramadan

Ponpes Baiquniyyah Wadahi Santri Belia Belajar Ilmu Agama

Mengenal Pondok pesantren Baiquniyyah, Ajak Belajar Para Santri Lewat Syair

Ponpes Baiquniyyah Wadahi Santri Belia Belajar Ilmu Agama
Tribun Jogja/Amalia Nurul Fathonaty
Ponpes Baiquniyyah di Dusun Jejeran I, Wonokromo, Pleret, Bantul. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pagi jelang siang itu suasana tampak lengang di Pondok Pesantren (Ponpes) Baiquniyyah, Dusun Jejeran I, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.

Beberapa anak baru saja pulang dari madrasah yang juga berada satu kompleks dengan pondok pesantren ini.

Ponpes yang didirikan pada tahun 1980 ini awalnya merupakan ponpes khusus putri. Ponpes yang didirikan oleh Imaduddin ini pada 90an, lebih banyak menerima santri anak-anak mulai dari kelas 1 sekolah dasar atau usia tujuh tahun.

"Seiring berjalannya waktu banyak yang menitipkan anak-anak. Hingga saat ini yang berkembang justru yang anak-anak," kata pengurus Ponpes Baiquniyyah, sekaligus putra pendiri Ponpes, Muhammad Baiquni, saat ditemui Tribun Jogja, Rabu (8/5/2019) pagi.

Menurut penuturannya, kebanyakan orangtua datang menitipkan anak-anak mereka di Ponpes ini lantaran agar dapat lebih diawasi sekaligus melatih kemandirian mereka sejak dini.

"Ada yang karena kesibukan, ada yang memang karena khawatir karena pergaulan yang ada," kata Baiquni.

Terlebih saat ini teknologi informasi yang makin tak terbendung kemajuannya. Menjadi hal yang ditakutkan para orangtua memengaruhi tumbuh kembang anak mereka.

Bersegmentasi anak-anak, metode belajar di ponpes ini pun juga menyesuaikan santri-santri yang kebanyakan duduk di sekolah dasar. "Pengasuhan dengan yang remaja tentu berbeda. Perlu usaha lebih ekstra termasuk kesabaran, bahan materi yang juga tidak sama," tutur Baiquni.

Daya tangkap anak-anak berbeda dengan daya tangkap remaja atau dewasa. Sehingga untuk materi, di ponpes ini ada metode tersendiri. "Ada namanya nadhom atau lagu, ada bait-bait syair yang dilagukan. Seperti untuk menyampaikan tata cara wudu, rukun Islam, dan sebagainya," ujarnya.

Dengan metode ini, anak-anak pun menjadi senang dan materi mudah dimengerti. "Bahasanya ada yang bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Untuk tulisannya ada yang tulisan Arab karena untuk belajar juga," tuturnya.

Selain pelajaran umum, ilmu lain yang dipelajari antara lain fikih dan menghafal Alquran. Cara menghafal Alquran dilakukan dengan metode tahfidz talaqi atau kata per kata dan kalimat per kalimat. "Setelah jamaah magrib ngaji talaqi, sama seperti sebelum asar. Setelah isya, ngaji fikih, tauhid. Jam 9-10 belajar kelompok, setelah itu istirahat," urainya.

Untuk bulan ramadan, sedikit berbeda dengan kegiatan di luar ramadan. Pendidikan di madrasah hanya sampai jam 10 pagi. "Untuk ngaji talaqi nya diganti tadarus," ujarnya.

Tadarus dirasa lebih ringan untuk dilakukan dibanding untuk menghafal Alquran. "Kalau menghafal kan butuh energi lebih. Kalau tadarus lebih ringan," tuturnya.

Kini, ada sekitar 200 santri di ponpes ini. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia mulai dari Riau, Banten, hingga DIY. Bahkan, kata Baiquni, dulu pernah ada santri yang berasal dari Jepang. "Dulu, sudah lama sekali ada yang dari Jepang, karena kakaknya kuliah di sini, dan mualaf, adiknya di sini," ungkapnya. (Tribunjogja I Amalia Nurul Fathonaty)

Penulis: amg
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved