Lomba Tandur Padi, Sarana Ajak Generasi Milenial Gemar Bertani

Puluhan siswa SMA dari Bantul dan Kota Yogyakarta tampak antusias belajar cara tandur atau menanam padi

Lomba Tandur Padi, Sarana Ajak Generasi Milenial Gemar Bertani
Tribun Jogja/ Hanif Suryo
Lomba menanam padi di area persawahan Desa Wisata Candran, Kecamatan Imogiri, Sabtu (4/5/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Perubahan era agraria ke era industrialisasi membawa dampak yang sangat besar bagi sistem kemasyarakatan di Indonesia.

Dari mayoritas penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani berubah menjadi bermata pencaharian di sektor industri.

Akibatnya, dari tahun ketahun generasi penerus petani semakin berkurang dan mayoritas petani pada saat ini adalah kaum lansia.

Hal inilah yang melatarbelakangi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta menggandeng Jaringan Accor Hotels Group dan Museum Tani Jawa menyelenggarakan lomba menanam padi di area persawahan Desa Wisata Candran, Kecamatan Imogiri, Sabtu (4/5/2019).

Puluhan siswa SMA dari Bantul dan Kota Yogyakarta tampak antusias belajar cara tandur atau menanam padi, yang barangkali menjadi pengalaman pertama bagi mayoritas pelajar ini.

"Kami melihat pentingnya generasi muda harus tahu sejarah pangan di Indonesia. Melalui Museum Tani Jawa yang menyediakan sarana belajar secara langsung ke sawah, harapannya peserta lomba tandur bisa mendapat pengalaman baru yang pastinya berkesan," kata ketua panitia kegiatan, Intan Kirana.

Adapun siswa yang terlibat dalam lomba tandur padi jumlahnya sekira 60-an pelajar dari tiga sekolah di antaranya SMA Stella Duce 1 Yogyakarta, SMA 3 Yogyakarta, dan SMA Imogiri.

Adapun untuk penilaian lomba tandur, Intan menjelaskan ada beberapa kriteria yang menjadi penilaian panita yaitu ketepatan waktu, kerapihan, dan kekompakan.

Wakil Kadin DIY, Nirwan Syamsudin Syukur mengapresiasi digelarnya lomba tandur yang terakhir kali digelar di Museum Tani Jawa sekira 2007 silam tersebut.

"Setiap hari kita makan nasi. Apakah tahu kapan ditanamnya, kapan diolahnya? tahu-tahu sudah jadi nasi di meja makan, jadi ini pentingnya penghargaan bagi para petani sang pahlawan pangan," katanya.

"Sudah begitu masih ada diantara pemuda kita yang tidak bisa memasak nasi, jadi ini perlu kita lihat bahwa pertanian kita mengalami penurunan baik produksi maupun cara pengelolaan pertanian karena alokasi di bidang pertanian juga sedikit sekali," imbuh dia.

Apresiasi turut disampaikan Pengelola Musem Tani Jawa, Kristyo Bintoro, yang berharap para generasi muda dapat memetik nilai-nilai luhur yang diwariskan petani.

"Kita berharap Museum Tano Jawa lebih maju lagi sebagai wahana generasi muda lebih dekat dengan petani. Museum Tani Jawa kita gagas untuk mewariskan nilai luhur perjuangan petani diantaranya jujur, tidak ada korupsi, tidak neko-neko, apapun hasilnya selalu menerima. Mewarisi rasa bersyukur pada sang pencipta, hal yang diwujudkan petani lewat berbagai ritual diantaranya wiwitan dan berbagai tradisi lainnya," ujar Kristyo.

Osi, pelajar kelas 10 SMA Stella Duce 1 Yogyakarta mengaku senang dapat kesempatan berharga turut serta pada kegiatan lomba tandur ini. Terlebih, ini menjadi kesempatan langka yang baru kali pertama ia ikuti.

"Senang sih, ini menjadi pengalaman pertama belajar menanam padi. Ternyata tidak mudah, selain langkah yang berat karena melangkah di lumpur, juga tandur yang tidak bisa asal. Ketika asal, benih padi yang akan ditanam akan patah," ujar Osi. (*)

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved