Pekerja Hotel, Restoran dan Pariwisata di Jateng-DIY Gelar Aksi Unjuk Rasa di Kota Magelang

Aksi ini digelar bertepatan dengan peringatan pada Hari Buruh Internasional atau Mayday.

Pekerja Hotel, Restoran dan Pariwisata di Jateng-DIY Gelar Aksi Unjuk Rasa di Kota Magelang
Tribun Jogja/ Rendika Ferri K
Puluhan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional DIY Jawa Tengah, unjuk rasa di simpang Artos Mall, Kabupaten Magelang, Rabu (1/5/2019). Mereka menuntut upah sektoral yang layak bagi para pekerja di Hari Buruh Internasional. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Puluhan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional DIY Jawa Tengah, menggelar aksi unjuk rasa di simpang Artos Mall, Kabupaten Magelang, Rabu (1/5/2019).

Aksi ini digelar bertepatan dengan peringatan pada Hari Buruh Internasional atau Mayday.

Mereka menuntut upah sektoral yang layak bagi para pekerja yang bekerja di bidang hotel, restoran, plaza, apartemen, retail, katering dan pariwisata di Provinsi Jawa Tengah dan DIY.

"Kami dari Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) di sektor hotel, restoran, katering, apartemen, retail dan pariwisata meminta di Mayday ini Pemerintah Provinisi Jateng dan DIY segera menerapkan upah minimum sektoral," ujar Koordinator Aksi, Ali Prasetyo, sekaligus Sekretaris Regional FSPM DIY Jateng.

Ali menilai upah yang diterima oleh para pekerja yang bekerja di bidang bidang hotel, restoran, plaza, apartemen, retail, katering dan pariwisata, selama ini, masih kurang layak.

Padahal, pariwisata sebagai sektor unggulan yang menyumbang pendapatan asli daerah yang terbesar.

"Hotel, Restoran dan pariwisata ini penyumbang PAD yang besar. Untuk itu kita meminta keadilan bagi para pekerja yang bekerja di sektor unggulan untuk diterapkan upah sektoral. Begitu juga di Kabupaten Magelang. Kita tahu Kabupaten Magelang pariwisata menjadi sektor unggulan, tetapi upah pekerjanya masih kurang layak," katanya.

Dikatakan Ali, upah para pekerja di bidang hotel, restoran, pariwisata, masih menyentuh sekitar Rp1,7 juta -Rp1,8 juta, baik di Sleman, Magelang dan Kota Yogyakarta. Baru mencapai upah minimal dan tak mencapai angka dua juta.

"Untuk upah layak, semisal untuk pekerja yang memiliki keluarga dengan istri dan dua orang anak, paling tidak upah minimum Rp2,7 juta. Upah sekarang masih belum layak. itu kenapa kita berjuang untuk upah sektoral," tuturnya.

Ia menilai, upah minimum Kabupaten, Kota atau Propinsi ditentukan pemerintah sebagai jaring pengaman saja.

Sementara untuk pekerja lajang dengan masa kerja di bawah satu tahun, dengan pekerja yang mempunyai tanggungan keluarga dengan masa kerja lima tahun, hanya diberlakukan upah minimun Kabupaten/Kota.

Jumlah pekerja di bidang hotel, restoran, pariwisata lainnya terdapat ratusan ribu, dan hampir semuanya masih mendapatkan upah minimum saja.

"Tuntutannya dinaikkan dengan upah sektoral. Gubernur dapat mengeluarkan kebijakan upah sektoral. Kami FSPM hotel restoran katering dan pariwisata akan mengajak kawan untuk berjuang bersama karena ini kolektif," ujar Ali.

Aksi unjuk rasa oleh FSPM Regional Jateng DIY sendiri diikuti oleh massa sebanyak 40 orang. Mereka menggelar aksi damai di simpang Artos Mall, melakukan orasi, dan memberikan selebaran berisi seruan mendukung upah sektoral bagi para buruh dan pekerja. (*)

Penulis: rfk
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved