Yogyakarta

Meski Industri Semen Bakal Oversupply, Indocement Optimis Permintaan Naik di Semester II 2019

Meski Industri Semen Bakal Oversupply, Indocement Optimis Permintaan Naik di Semester II 2019

Meski Industri Semen Bakal Oversupply, Indocement Optimis Permintaan Naik di Semester II 2019
Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho
Troy D Soputro (mimbar), Direktur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk saat mengisi seminar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Senin (29/4/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk selaku produsen Semen Tiga Roda dan Semen Rajawali mengaku optimis menghadapi ketatnya persaingan bisnis industri semen tanah air.

Masuknya pemain baru dalam industri semen tanah air membuat persaingan bisnis ini semakin ketat.

Pada 2019 ini, Indonesia bakal memiliki kapasitas terpasang sekira 115 Juta ton semen. Sedangan konsumsi tanah air diperkirakan hanya mencapai 72 Juta ton meski mengalami kenaikan sekira 4 persen dibandingkan permintaan konsumsi pada tahun sebelumnya.

Angka ini menunjukkan oversupply industri semen sebesar 43 Juta ton.

Meski demikian, menapaki semerter II 2019, Indocement mengaku optimis. Kenaikan 4 persen permintaan domestik akan berimbas pada meningkatnya permintaan produk di Indocement.

Indocement Kenalkan Slag Cement di Kampus Atma Jaya Yogyakarta

Troy D Soputro, Direktur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mengungkapkan, optimisme ini tumbuh melihat dari program lanjutan infrastruktur dan ekspektasi peningkatan di sektor property baik hunian maupun komersial sebagai efek domino dari perbaikan infrastruktur yang baik diberbagai daerah. Menurutnya hal ini akan memberi efek pada angka permintaan.

"Permintaan klinker domestik kami perkirakan juga akan meningkat dan perseroan dalam kondisi siap untuk memenuhi kebutuhan konsumsi klinker domestik tersebut, di samping juga terus menjajaki pangsa pasar klinker ekspor," katanya kepada TribunJogja.com, Senin (29/4/2019).

Selain itu, kata Troy, penguatan nilai tukar rupiah, penurunan harga batu bara dan minyak di semester I 2019 juga akan membuat biaya-biaya produksi menjadi lebih baik. Hal ini akan menjadi langkah efisiensi untuk menekan biaya produksi.

Tambah Pasokan, Pertamina Pastikan Stok LPG Aman Jelang Puasa

Langkah efisiensi lain yang dilakukan oleh perseroan yakni menerapkan operasional pabrik terbaru dan paling efisien (P14) dengan kapasitas sebesar 4,4 Juta ton di Citeureup, Bogor, Jawa Barat secara penuh.

"Sehingga mampu menekan biaya sebesar USD7-8/ton dibandingkan dengan pabrik yang lebih tua yang memakai batu bara dengan kalori lebih rendah," sebutnya.

Langkah lain, yakni pemakaian bahan bakar alternatif juga bakal terus dilakukan untuk menekan biaya energi dari pemakaian batu bara.

"Dengan begitu, perseroan akan memperoleh efisiensi dari biaya logistik dan distribusi dengan telah beroperasinya secara penuh dua terminal semen baru di Palembang dan Lampung," tutupnya. (tribunjogja I Wahyu Setiawan Nugroho)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved