Breaking News:

BPR Yakin Pertumbuhan Aset dan Penyaluran Kredit Capai Dua Digit di 2019

Catatan OJK DIY, BPR konvensional secara kredit tumbuh Rp5,2 triliun hingga Februari 2019 atau sekitar 1,28 persen.

Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Muhammad Fatoni
Intisari
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bank Perkreditan Rakyat (BPR) berharap perkembangan pertumbuhan aset maupun penyaluran kredit bisa mencapai angka dua digit di sepanjang tahun ini.

Catatan OJK DIY, BPR konvensional secara kredit tumbuh Rp5,2 triliun hingga Februari 2019 atau sekitar 1,28 persen.

Dari jumlah tersebut hampir separuhnya disalurkan ke dalam bentuk kredit konsumsi yakni senilai Rp2,5 triliun.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIY, Ascar Setiyono mengungkapkan, pihaknya akan fokus dengan mengimbangi sasaran dan kualitas kredit demi mendukung pertumbuhan tersebut.

Menurutnya, peluang dan potensi penyaluran kredit yang berkualitas lebih terbuka di wilayah DIY dibanding nasional, sehingga pihaknya optimistis pemberian kredit ke masyarakat maupun segmen pelaku usaha akan berjalan cukup baik di tahun ini.

"Paling nggak ya diangka 10-12 persen, meskipun itu kita harus berjuang keras dari sisi pertumbuhan dan kita juga harus mengimbangi dari sisi kualitas kredit," kata Ascar, belum lama ini.

Di lain hal, BPR kata Ascar juga mengalami tantangan untuk menyalurkan kredit ke sejumlah segmen yang produktif, sehingga tetap maksimal.

"Dari sisi margin laba di tengah persaingan yang ada saya pikir akan semakin menurun dan itu BPR harus mengejar volume usaha agar profit margin yang lebih baik lagi dengan memperbanyak dari jumlah nasabah dan rekening," jelasnya.

BPR yang masih berskala kecil, dijelaskannya saat ini juga masih terkendala dari sisi permodalan, dengan demikian BPR dituntut untuk mengejar modal sesuai dengan ketentuan baik tambahan dari para pemilik maupun dari keuntungan bisnis.

"Saya melihat mungkin ada sekitar 10-12 BPR yang mesti mengejar itu. Di lain sisi, struktur dana BPR yang masih didominasi dari deposito juga masih banyak BPR yang punya biaya dana yang tinggi sehingga profit semakin berkurang," urainya.

Ia menambahkan, meskipun sejumlah perusahan banyak menyimpan dana di BPR cukup membantu dari sisi bisnis, namun disisi lain hal itu menjadikan unsur biaya yang cukup tinggi.

BPR menurutnya mesti berinovasi dengan produk lain sehingga dana perusahaan yang tersimpan bisa bisa ditekan bunga maksimalnya dan dapat dibatasi sehingga biaya dana bisa optimal.

"Mau tidak mau hal itu mesti dilakukan dan bisa menekan dari sisi biaya dana," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved