Runtuhnya Keraton Kartasura

Runtuhnya Keraton Kartasura : Harta Kerajaan Bertumpuk di Pintu Gerbang Gagal Dibawa Lari

Harta Kerajaan Bertumpuk di Pintu Gerbang Gagal Dibawa Lari. Harta Kerajaan Bertumpuk di Pintu Gerbang Gagal Dibawa Lari

Runtuhnya Keraton Kartasura : Harta Kerajaan Bertumpuk di Pintu Gerbang Gagal Dibawa Lari
Tribun Jogja/Setya Krisna Sumargo
Freddi Candra, juru pelihara situs Keraton Kartasura dan dua temannya memasang tangga lipat untuk naik ke benteng cepuri keraton, atau yang juga disebut tembok Srimanganti. Ini pagar keliling komplek kediaman raja Mataram yang berada di tengah-tengah istana. 

TRIBUNJOOGJA.COM, YOGYA - Seorang bangsawan Keraton Surakarta, Daradjadi, secara apik menuliskan kisah dramatis perang yang meruntuhkan Keraton Kartasura pada 1742.

Dalam buku Geger Pacinan 1740-1743 (Penerbit Kompas, 2013), peristiwa berdarah itu dikenang sebagai "Geger Pacinan", seperti judul bukunya.

Mengapa Geger Pacinan? Penyerbuan ke Keraton Kartasura yang kala itu dikuasai Sunan Pakubuwana II, sesungguhnya tidak berdiri sebagai konflik sendiri.

Peristiwa itu berkelindan dengan pemberontakan etnis Tionghoa di Batavia, yang akhirnya dibantai secara kejam oleh pasukan VOC pada 10 Oktober 1740.

Tokoh-tokoh radikal etnis Tionghoa di Batavia yang memimpin pemberontakan melarikan diri ke timur, melanjutkan perlawanan di Jawa Tengah.

Mereka yang jumlahnya ribuan, bergabung dengan kelompok bangsawan Mataram, yang hendak mendongkel Sunan Pakubuwana II karena bersekutu dengan VOC.

Bata merah berukuran besar yang menjadi bahan pembangunan benteng Keraton Kartasura
Bata merah berukuran besar yang menjadi bahan pembangunan benteng Keraton Kartasura (Tribun Jogja/Setya Krisna Sumargo)

Sejumlah bangsawan Mataram itu mengangkat Raden Mas Garendi, cucu Sunan Amangkurat III yang baru berumur 12 tahun, sebagai Sunan Amangkurat V.

Datanglah bocah belia  itu ke Kartasura, memimpin balatentara campuran Tionghoa dan Jawa yang kemudian menghancurleburkan pusat kerajaan Mataram yang dijaga kompeni.

Karena memimpin pasukan Tionghoa itulah, Raden Mas Garendi atau Sunan Amangkurat V ini juga dikenal sebagai Sunan Kuning.

Dalam bukunya, Daradjadi melukiskan detik-detik ketika pasukan penyerbu yang saat itu dikomandani Kapiten Sepanjang menggempur keraton.

Inilah Lubang Bekas Peluru Meriam Pasukan Sunan Kuning saat Serbu Keraton Kartasura

Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved