Yogyakarta

Destinasi Wisata Pesisir Dinilai Rentan Berpotensi Bencana

Hasil yang didapat kemudian akan direkomendasikan kepada pembuat kebijakan dan diharapkan bisa dijadikan dasar untuk pengelolaan pariwisata pesisir.

Destinasi Wisata Pesisir Dinilai Rentan Berpotensi Bencana
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon Pinsker
Lokakarya Internasional mengenai Ketahanan dan Pariwisata Pesisir di kawasan Asia Tenggara (Rescoast), Kamis (25/4/2019) di UC UGM. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kawasan pariwisata berbasis pantai yang banyak terdapat di wilayah Asia Tenggara khususnya Indonesia disinyalir oleh akademisi memiliki kerentanan yang kuat terhadap potensi bencana.

Disamping pesonanya yang elok, destinasi pariwisata pantai dinilai merupakan kawasan yang rawan bencana karena berada pada jalur cincin api dan patahan sesar Eurasia dan Indo - Australia yang berpotensi menyebabkan aktivitas tektonik/gempa, tsunami, dan erupsi gunung api.

Pengajar Manajemen Pariwisata Universitas Kent, Dr. Mark Hampton menerangkan, perlu adanya penguatan sumber daya manusia (SDM) pemerintahan yang bergerak di bidang pariwisata untuk dapat mengembangkan infrastruktur dan sarana lain dalam mengantisipasi potensi dampak bencana tersebut.

Langkah tersebut, kata dia, dapat dimulai dengan suatu perencanaan dan cetak biru yang komprehensif tentang pariwisata pantai yang berbasis mitigasi bencana.

Tsunami Drill Ingatkan Kembali Masyarakat Kesiapsiagaan Bencana Tsunami

"Memang mesti ada institusi pelatihan high level untuk mengembangkan SDM itu, terutama bagi pengambil keputusan memang harus benar-benar paham tentang mengenai karakter pariwisata yang ada di wilayah mereka," ujarnya di sela Internasional Workshop Resilience and Coastal Tourism in South East Asia (Rescoast 19) Kamis (25/4/2019) di UC UGM.

Dia melanjutkan, dunia pariwisata selama ini khususnya Indonesia masih berfokus pada peningkatan lama tinggal wisatawan atau mengejar jumlah kunjungan wisatawan.

Meskipun penting, namun banyak hal lain lagi yang mesti dikuasi dalam mengelola dunia pariwisata yang berbasis mitigasi bencana.

Ketua Program Doktor Departemen Arsitektur dan Perencanaan UGM, Prof Wiendu Nuryanti menjelaskan, Indonesia sebagai penyandang negara maritim dan banyak memiliki destinasi wisata pesisir tidak pernah memetakan secara jelas potensi bencana yang akan ditimbulkan dari wilayah tersebut.

"Kalau kita tidak memiliki para pemegang kebijakan yang tidak menguasai terhadap persoalan bencana ini bisa fatal akibatnya," imbuhnya.

Kukuhkan SMPN 4 Pakem, Sleman Miliki 61 Sekolah Siaga Bencana

Untuk itu, pihaknya dalam lokakarya tersebut akan mengumpulkan berbagai pemikiran dan pengalaman dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik tentang bagaimana suatu negara mengelola kawasan pariwisata pesisir mereka.

Hasil yang didapat kemudian akan direkomendasikan kepada pembuat kebijakan dan diharapkan bisa dijadikan dasar untuk pengelolaan pariwisata pesisir.

Prof Wiendu menambahkan, sejumlah destinasi wisata memang telah menerapkan pariwisata berbasis mitigasi bencana. Namun, menurutnya hal itu belum dimanfaatkan secara maksimal dan belum sepenuhnya jalan.

"Kebanyakan bangunan evakuasi sementara belum digunakan sebagai fungsi lain, padahal itu kan kalau di bagian atas bisa dimanfaatkan sebagai atraksi pariwisata," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved