Bantul

Wiwitan di Tengah Sempitnya Lahan Pertanian

Sejatinya wiwit adalah mengambil padi yang sudah tua, untuk disimpan dan kelak digunakan sebagai benih di masa tanam yang akan datang.

Wiwitan di Tengah Sempitnya Lahan Pertanian
TRIBUNJOGJA.COM / Amalia Nurul F
Perwujudan Dewi Sri dibawakan oleh penari Nani Sawitri yang membawakan tarian ritual dalam upacara wiwitan di Kampung Nitiprayan, Desa Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. 

Kirab berakhir di tengah persawahan tak jauh dari Salam.

Di tengah sawah dilakukan ritual doa sebelum memanen padi. Dihadirkan pula perwujudan Dewi Sri, perlambang kesuburan dan melimpahnya hasil panen.

Sosok Dewi Sri ini dibawakan oleh penari Nani Sawitri.

Nani juga membawakan tarian ritual usai doa syukur dipanjatkan.

Makna tarian yang ia bawakan juga merupakan wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen.

Sekaligus harapan untuk panen melimpah di musim-musim mendatang.

Kata Budi, lahan pertanian di Nitiprayan memang tak lagi luas. Namun, ia berharap dengan adanya wiwitan ini membuat masyarakat semakin sadar betapa lahan pertanian ini penting untuk kebutuhan pangan.

Bupati Bantul Hadiri Upacara Wiwitan di Gilangharjo

"Yang jelas saya melihat, lahan pertanian semakin menyusut, harapannya dengan tradisi ini juga membangkitkan, untuk menyadarkan sawah itu penting karena itu sumber pangan kita," paparnya.

Terpisah, tokoh pendidik dan pendiri SALAM Yogyakarta Toto Rahardjo menjelaskan secara batiniah, filosofi tradisi Wiwit, adalah menjaga hubungan manusia dengan yang Maha Kuasa, sang pemberi kehidupan melalui kekayaan alam yang melimpah.

Hal itu  semestinya diolah dengan tata kelola yang benar

Halaman
123
Penulis: amg
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved