Sleman

Menengok Kiat Pappernik Batik, Lestarikan Batik Lewat Pernak-pernik Kerajinan Tangan

Menengok Kiat Pappernik Batik, Lestarikan Batik Lewat Pernak-pernik Kerajinan Tangan

Menengok Kiat Pappernik Batik, Lestarikan Batik Lewat Pernak-pernik Kerajinan Tangan
Tribun Jogja/ Yosef Leon Pinsker
Sejumlah produk Pappernik Batik yang memanfaatkan bahan baku batik cap tangan dan diolah menjadi sejumlah produk. 

TRIBUNJOGJA.COM - Batik telah menjadi identitas Indonesia di mata dunia. Sebagai produk kebudayaan, upaya melestarikan dan mewujudkan batik menjadi aneka produk kerajinan kini mulai banyak ditemukan.

Pappernik Batik hanya sebuah usaha berskala rumahan yang berlokasi di Jalan Damai, Dusun Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Sleman.

Namun niat dan upayanya dalam melestarikan batik patut diapresiasi. Pappernik Batik berdiri sejak November 2017 lalu dan fokus dalam mengolah kain batik cap tangan.

Produk-produk olahannya dikerjakan secara mandiri dan memanfaatkan sejumlah tenaga kerja lokal setempat. Hingga sekarang, total ada lebih dari 30 jenis produk yang dihasilkan dari kain berbahan batik.

Hasil kreasinya diwujudkan dalam aneka produk seperti scarf, sarung bantal, saputangan, dompet, topi, gantungan kunci, dan beragam produk pernak-pernik berbahan batik lainnya.

Baca: Melestarikan Budaya Jawa Dengan Kerajinan Kayu

Sinta Kumala (23) Pengelola Pappernik Batik mengaku, usaha ini merupakan rintisan yang diinisiasi sang kakak ipar semenjak kurang lebih dua tahun silam.

Awalnya, kakak iparnya hanya berprofesi sebagai penjual kain-kain batik dan dipasarkan di sejumlah wilayah. Niat untuk membuka usaha sendiri akhirnya muncul dengan memanfaatkan batik sebagai bahan baku.

Pappernik Batik berusaha menghadirkan keunikan di setiap produk yang dihasilkannya. Maka tidak heran kalau harga yang dipatok juga cukup lumayan.

Baca: Aturan Dusun Karet Diskriminatif, Dewan Minta Resapi Kembali Pancasila

Rentang harga jual dimulai dari Rp17.500 untuk sebuah produk gantungan kunci. Sementara untuk tas kantong belanja dibandrol Rp65 ribu dan sarung bantal di Rp35 ribu.

"Kalau istilah Jawa Ono Rupo Ono Rego (kualitas pastinya sesuai dengan harga). Jadi kami pastikan produk yang dijual asli dari batik cap tangan, jadi motifnya tidak mudah luntur," jelas Sinta.

Untuk bahan baku, pihaknya memesan langsung dari perajin batik asal Pekalongan, Cirebon dan Yogyakarta. Dalam seminggu, Sinta mengaku bisa memesan sebanyak 20 gulungan kain yang berukuran 2x1 meter.(tribunjogja)

Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved