Yogyakarta

Pohon Cahaya Bakal Gelar Obrolan Kebangsaan

Merebaknya isu intoleransi yang ditemukan di DIY belakang ini semakin mengikis predikat kota multikultur yang disandang Yogyakarta.

Pohon Cahaya Bakal Gelar Obrolan Kebangsaan
Istimewa
Sasongko Iswandaru (kanan) pemilik PT Pohon Cahaya. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Merebaknya isu intoleransi yang ditemukan di DIY belakang ini semakin mengikis predikat kota multikultur yang disandang Yogyakarta.

Rentetan peristiwa yang berpotensi menjadi disintegrasi jamak ditemukan dan berlangsung dalam selisih tempo yang sebentar.

Baru-baru ini bahkan masyarakat dihebohkan dengan temuan penolakan terhadap salah seorang pendatang yang bukan berasal dari kelompok agama tertentu.

Peristiwa itu terjadi di Padukuhan Karet, Kelurahan/Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, DIY.

Baca: Ketua Komisi A DPRD DIY : Praktek Intoleransi Bertentangan dengan Pancasila dan Keistimewaan DIY

Terjadinya peristiwa ini jelas menciderai keberagaman dan kebhinekaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

Sebagai langkah untuk meminimalisir kejadian serupa, PT Pohon Cahaya sebagai badan penerbit dan percetakan bakal melaksanakan kegiatan 'Menyulam Toleransi dalam Berdemokrasi'.

Kegiatan yang dilaksanakan sebagai rangkaian peringatan hari jadi yang ke-10 dari PT Pohon Cahaya ini, bakal digelar pada Jumat 5 April 2019 di The Rich Jogja Hotel dimulai pada pukul 17.00-21.00 Wib.

"Kita akan mencoba untuk berdiskusi disana dan mengedukasi masyarakat karena kita bersama-sama punya negara yang sama dan harus dijaga. Harapan kita bersama, paling tidak tahu dan mencoba meminimalisir terjadinya peristiwa serupa. Tentu memperihatinkan sekali," kata pemilik PT. Pohon Cahaya, Sasongko Iswandaru.

Baca: Kesbangpol DIY Minta Masyarakat Patuhi Empat Konsensus

Sasongko menjelaskan, meskipun masih tergolong kecil, setidaknya kegiatan ini diharapkan akan mampu memberikan manfaat dan menemukan pemahaman yang tepat tentang keberagaman.

Sejumlah tokoh dihadirkan dalam kegiatan ini, seperti Cendekiawan Muslim Gus Nuril, Rohaniawan Rm Benny Susetyo, Koordinator Jaringan Islam Anti-diskriminasi Gus Aan Anshori, serta dosen UGM Bagas Pujilaksono.

Dalam kesempatan tersebut, nantinya juga akan dikupas tuntas buku karya Gus Nuril yang berjudul 'Antara Pancasila dan Khilafah' yang diterbitkan oleh Pohon Cahaya.

"Tentunya harapan kita tetap sama. Bagaimana bingkai keistimewaan Yogyakarta itu tetap lestari dalam keberagaman dan toleransi warga masyarakatnya," pungkas Sasongko. (TRIBUNJOGJA.COM)

Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved