Kisah Nisan-nisan Tanpa Nama di Bekas Markas Diponegoro di Kulon Progo

Tatkala serdadu Hindia Belanda Timur dan pasukan pribuminya menyerang kawasan ini, Dekso sudah ditinggalkan penghuninya.

Kisah Nisan-nisan Tanpa Nama di Bekas Markas Diponegoro di Kulon Progo
Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia
Ki Roni Sodewo, keturunan ketujuh Dipanagara, berdiri di permakaman laskar moyangnya di Desa Dekso. 

Ki Roni menghitungnya sambil menunjuk satu per satu. “Jumlahnya ada 147 makam,” ucapnya. “Tapi sepertinya ada beberapa batu nisan yang hilang.”

National Geographic bertanya kepada Ki Roni, mungkinkah IKPD mengajak keluarga keturunan laskar Dipanagara untuk merawat tempat ini? “Justru keturunan laskar Dipanagara yang mengejar-ngejar saya untuk merawat,” ungkapnya.

Pengabdian Terakhir, Lukisan Babad Diponegoro Karya Gus Black yang Wah dan Sarat Makna

Kemudian dia menirukan pinta keturunan laskar Dipanagara, “Mas, mohon makam ini dirawat. Bukankah ini makan para prajurit kakek moyang Anda?”

Sebagai pendiri IKPD, selain menghimpun wangsa Dipanagaran, Ki Roni juga turut mengayomi perkumpulan-perkumpulan keturunan laskar Dipanagara.

Inilah Enam Tantangan Galuh Tajimalela Melukis Gambar Babad Diponegoro

Namun, membangun sebuah jaringan organisasi memang tidak mudah. Berbeda dengan keturunan Sang Pangeran dari Makassar atau Ambon, demikian ujar Ki Roni, keturunan moyangnya yang menghuni Kulonprogo dan perbukitan Menoreh sebagian besar adalah para petani kecil.

“Umumnya mereka adalah orang-orang susah,” ujarnya. “Mereka betul-betul tidak pernah diberi kesempatan—untuk mengetahui sejarah leluhurnya.” (*)

===

Artikel ini sudah tayang di National Geographic Indonesia dengan judul Yuk Kita Jelajahi Makam Nelangsa Laskar Dipanagara di Kulonprogo

Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved